Senin, 22 Februari 2010

Bati – Mahluk Misterius Dari Pulau Seram


Di Pulau Seram, Ambon, menurut legenda masyarakat setempat, hiduplah seekor makhluk misterius yang tinggal di gunung di wilayah Kairatu. Tubuhnya seperti manusia, bersayap dan suka menculik anak kecil pada malam hari untuk disantap itu. Makhluk itu bernama Orang Bati.
Sebenarnya sudah sejak dua bulan yang lalu ketika saya diminta untuk menulis mengenai monster-monster dari Indonesia. Baru-baru ini ketika saya kembali diminta untuk menulis kisah misteri di Indonesia, saya teringat dengan permintaan awal itu.
Tahukah anda bahwa sesungguhnya sangat sulit menulis mengenai misteri dari Indonesia, terutama mengenai monster-monsternya ? Saya akan jelaskan sebabnya.


Apabila di Amerika ditemukan anjing aneh seperti Shunka Warak'in yang pernah saya tulis mengenainya sebelumnya, maka penduduk Amerika akan menyebutnya anjing jenis baru atau anjing purba yang masih bertahan hidup. Namun apabila anjing seperti itu ditemukan di Indonesia, maka penduduk akan menyebutnya Anjing jelmaan siluman.
Di Indonesia, semua makhluk yang aneh dan misterius selalu dikaitkan dengan manifestasi roh jahat. Saya tidak memungkiri adanya makhluk jelmaan setan atau manifestasi dari Ilmu hitam seperti Jenglot, Tapi penyamarataan ini mengakibatkan makhluk cryptid Indonesia menjadi tidak terdokumentasi dan terlupakan.
Jadi saya mengalami kesulitan untuk menemukan monster-monster Indonesia yang benar-benar diakui sebagai Cryptid oleh komunitas internasional.
Menurut saya, mungkin fenomena ini bukan saja karena budaya tahayul yang mengakar kuat di Indonesia, namun mungkin karena belum ada ahli Cryptozoology asal Indonesia (atau mungkin sudah ada, hanya saya yang tidak tahu). Padahal dari Sabang sampai Merauke, saya yakin masih banyak Cryptid yang menunggu untuk ditemukan.
Untungnya ada beberapa peneliti Internasional yang tertarik dengan makhluk-makhluk misterius Indonesia. Mereka yang cenderung lebih rasional mengkaitkan makhluk-makhluk ini dengan Cryptozoology, bukan dengan hal-hal yang berbau mistis.

Contohnya, Cryptid Indonesia yang paling ternama di dunia adalah makhluk yang bernama "Orang Pendek", makhluk pendek berbadan monyet yang hidup di propinsi Jambi. Orang Pendek masuk ke dalam jajaran Cryptid kelas dunia karena jasa satu orang, Deborah Martyr, seorang Inggris.

Selain Orang Pendek, ada juga Cryptid Indonesia yang disebut Orang Gadang, Bigfootnya Indonesia yang dipercaya hidup di Sumatera. Sekali lagi, Orang Gadang go international karena jasa seorang Belanda bernama KW Dammerman.
Ada juga Orang Gugu, yang kadang dianggap sama dengan Orang Pendek. Orang Gugu Go Internasional karena jasa dua orang Inggris. Pertama William Marsden yang menceritakan kisah ini dalam bukunya "The History Of Sumatera". Dan yang kedua Benedict Allen yang menulisnya dalam buku berjudul "Hunting the gugu : In search of the lost ape-men of Sumatera".

Namun, bagaimanapun juga, informasi mengenai makhluk-makhluk diatas sangat minim.
Anyway, bagaimanapun juga, akhirnya saya memutuskan juga untuk menulis mengenai monster-monster Indonesia seperti permintaan beberapa orang, namun tetap dalam garis Cryptozoology.
Monster yang ingin saya ceritakan kali ini adalah Orang Bati. Kisah Orang Bati mendapat perhatian Internasional setelah seorang bernama Karl Shuker (orang asing juga) menuangkan kisahnya dalam buku yang berjudul "Is Batman alive and well and living on the island of seram?".
Monster ini sering dikaitkan dengan Mothman. Apabila Karl Shuker menyebutnya Batman, maka beberapa peneliti lainnya menyebut makhluk ini Mothman Indonesia. Begini kisahnya :

Di Pulau Seram, Ambon, Sejak abad ke-15, para penduduk melaporkan adanya makhluk misterius yang hidup di gua-gua di gunung Seram Timur. Makhluk itu disebut memiliki badan seperti manusia dan memiliki sayap. Kebiasaannya adalah menculik anak kecil pada malam hari untuk makan malamnya. Mereka menyebutnya Orang Bati.
Menurut deskripsi para penduduk, Orang Bati memiliki tinggi badan sekitar 1,6 meter, bersayap hitam, berkulit merah dan memiliki ekor kecil yang panjang. Nama Orang Bati sendiri berarti "Orang bersayap".
Kisah Orang Bati bertahan selama berabad-abad diantara penduduk lokal hingga kemudian diceritakan kepada para Misionaris Kristen yang datang ke Pulau itu.

Pada tahun 1987, Seorang misionaris Inggris yang bernama Tyson Hughes memulai pekerjaannya tinggal selama 18 bulan di Maluku untuk mengajarkan kepada penduduk cara bercocok tanam yang efisien. Para penduduk kemudian menceritakan kisah Orang Bati kepada Mr Hughes. Tentu saja, Mr Hughes skeptis, hingga akhirnya ia sendiri mengaku berjumpa dengan makhluk itu.

Sayang, saya tidak menemukan informasi lebih lanjut mengenai detail perjumpaan itu.
Beberapa ahli Cryptozoology percaya bahwa Orang Bati adalah Pterodactyl yang masih hidup pada abad modern ini. Namun teori yang paling populer adalah teori Kelelawar raksasa. Kemungkinan para penduduk melihat seekor kelelawar raksasa pemakan monyet dan salah mengidentifikasikannya. Teori kelelawar raksasa juga sering dikaitkan dengan Mothman di Amerika.

Sekali lagi, Tidak ada bukti fisik yang menunjukkan bahwa makhluk ini pernah hidup di Pulau Seram. Namun entah mengapa, legenda ini terus hidup selama berabad-abad. Tapi saya tidak terlalu heran. Kitapun tidak memiliki bukti fisik Nessie dari Lochness, Bigfoot atau Mothman dari Amerika.

Atau jangan-jangan...Orang Bati memang benar jelmaan siluman...
Apabila ada orang yang membaca tulisan ini yang berasal dari pulau Seram yang dapat memberikan informasi yang lebih lengkap, maka saya akan sangat senang sekali.

Notes :
Istilah Cryptozoolgy pertama kali dipopulerkan oleh Bernard Heuvelmans pada akhir 1950an. Istilah ini merupakan gabungan dari 3 kata Yunani yaitu Kryptos yang berarti tersembunyi, Zoon yang berarti hewan dan Logos yang berarti Ucapan. Cryptozoology sekarang adalah istilah yang sering digunakan untuk merujuk kepada cabang ilmu yang menyelidiki makhluk-makhluk misterius yang belum terklasifikasi dalam ilmu pengetahuan modern. Sedangkan Cryptid berarti makhluk misterius yang belum terklasifikasi oleh Ilmu pengetahuan modern.

Mungkin suatu hari anda yang membaca artikel ini memutuskan untuk menjadi seorang ahli Cryptozology pertama dari Indonesia....

ASOKA 300 SM-±232 SM


Raja terpenting dalam sejarah India mungkin sekali Asoka, penguasa ketiga dinasti Maurya dan cucu pendiri dinasti itu, Chandragupta Maurya. Chandragupta seorang pimpinan militer India yang --dalam saat nyaris berbarengan dengan peperangan yang dilancarkan Alexander Yang Agung-- menaklukkan hampir seluruh bagian India Utara, dan dengan sendirinya bisalah dianggap sebagai pendiri pertama sebuah kekaisaran besar di India.
Tahun kapan persisnya kelahiran Asoka tidak diketahui. Mungkin sekali mendekati tahun 300 SM dan dia naik tahta sekitar tahun 273 SM. Pada mulanya dia mengikuti saja jejak sang buyut dan berusaha meluaskan daerah kekuasaan lewat aksi militer. Pada tahun ke-8 pemerintahannya dia membereskan peperangan yang sukses terhadap Kalinga, negara di pantai timur India (kira-kira letak Orissa sekarang ini).

Tetapi, begitu dia sadari betapa dahsyatnya harga yang mesti ditebus untuk kemenangan ini, Asoka merasa terpukul batin. Seratus ribu orang terbunuh, dan beratus ribu orang terluka. Tertekan dan merasa berdosa, Asoka berkeputusan menghentikan gerakan militer menaklukkan India, dan bersamaan dengan itu menjauhkan diri dari perbuatan agresif, dia menjadi pemeluk Buddha dan menerima filosofinya, mencoba mempraktekkan nilai-nilai "dharma" yang mengandung suruhan menjalankan kebenaran, kebajikan dan ketidakagresifan.
Buat pribadinya sendiri Asoka berhenti berburu dan menjadi "vegeterian" (tidak makan daging kecuali sayuran). Dalam segi-segi penting lain masih banyak sikap-sikap kemanusiaan yang dianutnya. Dia mendirikan rumah-rumah sakit dan tempat-tempat peribadatan, mengeluarkan aturan-aturan yang meringankan buat penduduk, membangun jalan-jalan dan memajukan perairan. Bahkan Asoka secara khusus menunjuk pejabat pemerintah yang disebut "pejabat dharma", bertugas menyuruh rakyat supaya beribadah kepada Tuhan, supaya mengembangkan semangat hidup berbaik-baik sesama manusia. Semua agama mendapat tempat yang sama di wilayah kerajaannya. Toleransi Asoka tampak nyata sekali, walau Agama Buddha peroleh perhatian khusus yang menguntungkan pertumbuhan agama itu. Utusan-utusan Buddha dikirim ke luar negeri, dan missi mereka mencapai hasil besar khususnya di Srilangka.
Asoka memerintahkan mencatat kehidupan dan langkah kebijaksanannya yang ditulis di tiang-tiang atau batu-batu karang tersebar di seluruh negeri. Banyak monumen-monumen itu masih bisa tahan hingga sekarang.
Penempatan monumen-monumen itu secara geografis memungkinkan kita peroleh informasi yang dapat dipercaya mengenai luas kekuasaan Asoka, dan tulisan-tulisan yang tertera di atasnya merupakan sumber utama pengetahuan kita mengenai kariernya. Secara kebetulan, tiang-tiang ini juga dianggap sebagai hasil kerja seni tingkat tinggi.
Dalam tempo lima puluh tahun sesudah Asoka wafat, Kerajaan Mauryan berantakan dan tak pernah bisa bangkit kembali. Sementara itu, melalui dukungannya kepada Agama Buddha, pengaruh jangka panjang Assoka terhadap dunia dengan sendirinya menjadi amat luas. Tatkala dia naik tahta, Agama Buddha masih kecil sekali penganutnya, cuma bersifat lokal, dikenal cuma di bagian barat laut India. Tetapi, tatkala wafatnya, penganutnya sudah meliputi seluruh India dan dengan cepat pengaruhnya sudah menyebar ke negeri-negeri tetangga. Lebih dari siapa pun juga --kecuali Gautama sendiri--Asoka adalah seorang yang bertanggung jawab atas berkembangnya Agama Buddha menjadi agama besar dunia.

Arti Cinta Plato - Socrates


Suatu hari, Plato bertanya kepada gurunya (Socrates), Apa itu cinta?
Bagaimana saya bisa menemukannya?
Gurunya menjawab, Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah, tetapi jangan mundur kembali, kemudian ambillah satu buah ranting.
Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu
telah menemukan cinta.
Plato kemudian berjalan, tidak berapa lama kemudian ia kembali dengan tangan kosong
tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya, Mengapa kamu tidak membawa satu ranting pun?
Plato menjawab, Aku hanya boleh membawa satu saja dan saat berjalan tidak boleh munduk kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tidak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi ranting tersebut tidak kuambil. Setelah aku melanjutkan perjalanan, baru aku sadar bahwa ranting-ranting yang kutemukan
kemudian tidak sebagus ranting yang tadi, jadi akhirnya tak sebatang ranting pun yang kuambil.

Guru menjawab, Itulah yang dimaksud dengan cinta.Beberapa hari kemudian, Plato kembali bertanya
kepada gurunya, Apa itu perkawinan?
Bagaimana saya bisa menemukannya?
Gurunya menjawab, Ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh
mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Jika kamu
menemukan pohon yang paling tinggi, tebanglah.
Dengan begitu artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan.
Plato kemudian berjalan dan tidak berapa lama kemudian ia kembali dengan membwa
sebuah pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja. Gurunya bertanya,
Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?Plato menjawab, Berdasarkan pengalamanku sebelumnya, ternyata aku kembali dengan
tangan kosong.
Jadi pada kesempatan ini, aku lihat pohon ini dan kurasa tidak terlalu buruk. Jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya ke sini.
Aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya.
Gurunya menjawab, Itulah yang dimaksud dengan perkawinan.Cinta itu semakin dicari, semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika kita dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan berlebihan akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan.Tak ada satupun yang didapat serta tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terima cinta apa adanya.Perkawinan adalah kelanjutan dari cinta.
Perkawinan merupakan proses mendapatkan kesempatan. Ketika kau mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka kau akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya.Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu untuk mendapatkan perkawinan itu.
Karena kesempurnaan itu hampa adanya.

Guru/Ortu Yang Bikin Kita Lugu (Humor)


Karena rakyat Indonesia sejak dini sudah didoktrin dengan lagu2 yang tidak bermutu & mengandung banyak kesalahan, mengajarkan kerancuan, dan menurunkan motivasi.

Mari kita buktikan :

“Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya… merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru …
meletus balon hijau , dorrrr!!!”

Perhatikan warna-warna kelima balon tsb, kenapa tiba2 muncul warna hijau?
Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5 ! -


“Aku seorang kapiten… mempunyai pedang panjang…kalo berjalan prok..prok.. prok… aku seorang kapiten!”

Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait
kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsistensi) Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi : “mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang).. kalo berjalan prok..prok.. prok..” nah, itu baru klop!
jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi :
“mempunyai pedang panjang… kalo berjalan ndul..gondal. .gandul.. atau srek.. srek.. srek..”
itu baru sesuai dgn kondisi pedang panjangnya!

“Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..”

Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur. Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang!

“Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali..kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon
cemara..2X”

Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu jadi bingung dan gak tau mau berbuat apa, bisanya cuma noleh ke kiri ke kanan aja, gak maju2!

“Naik kereta api tut..tut..tut. . siapa hendak turut ke Bandung .. Sby.. bolehlah naik dengan naik percuma..ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama”

Nah, yg begini ini yg parah! mengajarkan anak-anak kalo sudah dewasa maunya gratis melulu.
Pantesan PJKA rugi terus! terutama jalur Jakarta-Malang dan Jakarta-Surabaya!

“Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul2 sepanjang hari dg tak
jemu2..mengangguk2 sambil bernyanyi tri li li..li..li.. li..li..”

Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan kepada anak2 akan realita yg
sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit.. cuit !
kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang (catatan: acara lagu anak2 dgn presenter agnes monica waktu dia masih kecil adalah tra la la tri li li!), bukan burung!

“Pok amé amé.. belalang kupu2.. siang makan nasi, kalo malam minum susu..”

Ini jelas lagu dewasa dan tidak konsumsi anak2!
Karena yg disebutkan di atas itu adalah kegiatan orang dewasa, bukan anak kecil.
Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi gak malem ya minum susu!

“Nina bobo nina bobo oh nina bobo… kalau tidak bobo digigit nyamuk”

Menurut psikolog: jadi sekian tahun anak2 indonesia diajak tidur dgn lagu yg penuh nada mengancam.

“Bintang kecil dilangit yg biru…”

(Bintang khan adanya malem, lah kalo malem mang warna langitnya biru?)

“Ibu kita Kartini…harum namanya”

(Namanya Kartini atau Harum?)

“Pada hari minggu..naik delman istimewa kududuk di muka”

(Nah, gak sopan khan..masa duduk di muka??)

“Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun kita…”

(kalo mau nanam jagung, ngapain dalam-dalam emang mo bikin sumur

AnArKISme PahaM yaNg TaK Per nAh padam


Selama ini, mendengar kata Anarkisme disebut, banyak orang segera merasa gelisah dan cemas, terbayang suatu kelompok manusia bringas yang siap menebarkan keonaran, kekacauan, kehancuran dan malapetaka. Meskipun pada umumnya orang hanya secara intuitif, tanpa tidak pernah mencoba menggali lebih seksama tentang apa yang disebut sebgai pandangan Anarkis tersebut, Namun istilah anarki sendiri sudah terlanjur menimbulkan kemarahan dan terlanjur secara luas disimpulkan bahwa anarkisme adalah sebagai suatu paham yang menakutkan karena jahat. Orangpun tanpa berpikir panjang percaya bahwa Anarkisme adalah negatif dan berbahaya, titik. Pendek kata, dalam memandang anarkisme, tidak hanya apparatus negara, bahkan masyarakat akademia, bersepakat bahwa Anarkisme adalah musuh umat manusia. Dengan demikian keyakinan yang mendominasi pemikiran masyarakat luas adalah bahwa “anarkisme” tidak lebih dari penyakit sosial yang bertentangan dengan segala norma sosial yang baik dan pantaslah jika anarkisme dianggap musuh masyarakat. leh karena itu dianggap wajar juga untuk menganjurkan untuk memberantas Anarkisme sampai keakar-akarnya. Anjuran untuk senantiasa waspada terhadap segala bentuk anarki saat ini telah menjadi hampir kesepakatan sosial. Pendek kata, Anarkisme perlu di amputasi atau dilenyapkan, untuk selamanya.

Lantas mengapa Anarkisme menjadi paham yang sangat ditakuti sehingga perlu dibrantas habis? Jangan-jangan letak persoalannya hanya karena kita tidak paham betul apa sebenarnya yang menjadi cita cita Anarkisme. Lebih ironis lagi, jangan-jangan secara diam-diam kita, anda dan saya tanpa menyadari, juga dalam beberapa hal bersimpati bahkan untuk banyak hal berbagi keyakinan dengan anarkisme Atas alasan itu semua, perlunya untuk memperdebatkan, merenungkan dan mempertimbangkan anarkisme sehingga akan melahirkan sikap kritis masyarakat sebagai alternatif dari sikap apriori menerima maupun apriori menolak, ataupun membenci secara membabi buta ataupun sikap secara taklid buta untuk menerima atau menolak tanpa suatu kesadaran mengapa dan untuk apa. Oleh karena itu lahirnya sikap dan kesadaran kritis yang didorong oleh suatu keterbukaan, dialog kritis adalah sesuatu yang yang harus difasilitasi oleh karena tema yang umumnya dianggap tabu untuk dibicarakan, bahkan tidak layak untuk diapresiasi, justru yang seharusnya perlu diapresiasi dan yang pertama tama perlu diacungkan jempol.

Lantas, apa sebenarnya dan mengapa Anarkisme begitu kontroversial? Anarkisme sebagai suatu paham atau pendirian filosofis maupun politik yang percaya bahwa manusia sebagai anggota masyarakat akan membawa pada manfat yang terbaik bagi semua jika tanpa diperintah maupun otoritas, boleh jadi merupakan suatu keniscayaan. Pandangan dan pemikiran anarkis yang demikian itu pada dasarnya menyuarakan suatu keyakinan bahwa manusia pada hakekatnya adalah mahluk yang secara alamiah mampu hidup secara harmoni dan bebas tanpa intervensi kekuasaan juga tidaklah ssuatu keyakinan yang sangat salah. Lalu dari mana datangnya persepsi bahwa anarkisme berarti mendorong pada kehancuran dan keberantakan? Padahal sangat jelas dari pengertian diatas sesungguhnya Anarkisme tidak identik dengan keyakinan pecinta kehancuran. Bahkan tidak ada indikasi bahwa anarkisme serta merta merupakan cita acita yang menjurus kearah kekacauan ataupun kehanacuraan dan keberantakan. Namun yang jelas memang anarkisme merupakan suatu pemikiran yang mendambakan suatu “orde” yang bersifat spontan. Mereka umumnya menolak segala prinsip otoritas politik, pada saat yang sama sangat percaya bahwa keteraturan sosial niscaya terwujud justru jikalau tanpa otoritas politik. Secara sepintas dapat dilihat, bahwa musuh gerakan anarki adalah segala bentuk otoritas, maupun segala bentuk simbol otoritas, dan bentuk otoritas yang bagi kaum anarkis sangat jelas adalah otoritas yang dimiliki oleh negara moderen. Itulah sebabnya bagi kaum anarkis, negara dipandang memonopoli otoritas kekuasaan yang perlu dibatasi, misalnya seperti kekuasaan territorial yang mereka miliki, kekuasaan yuridiksi atas rakyat termasuk kekuasaan menguasai kekayaan sumber daya didalam wilayah yang mereka kuasai. Kekuasaan negara juga muncul dalam bentuk pemanfaatan sistim hukum positive yang eksistensinya serta merta menundukkan dan menyingkirkan semua bentuk hukum yang “dianggap negatif”, seperti hukum adat dan banyak hukum lainnya. Dan akhirnya gagasan bangsa sebagai suatu bentuk puncak dari politisasi masyarakat juga menghancurkan segala bentuk kelompok kelompok masyarakat. Semua otoritas tersebut dipelihara melalui monopoli penguasaan alat alat pertahanan dan keamanan, bahkan negara memonopoli cara untuk menundukkan rakyat. Sebaliknya anarkisme memang mengidamkan suatu visi social tentang “masyarakat alami” yakni suatu masyarakat swakelola yang mandiri dari para invidual yang secara swadaya membentuknya. Anarkisme bahkan menjadi sikap politik bahwa pemerintahan selain tidak perlu juga destruktif. Ini memang sesuai dengan makna harfiah Anarki, yang konon asal katanya memang berakar dari kata Yunani yang artinya kurang lebih “tanpa aturan atau without a rule”, dan memang dalam perkembangannya telah digunakan.

Apa sebenarnya pandangan, visi dan pendirian filosofis kaum anarkis? Anarkisme mengambil berbagai bentuk dan spektrum, yakni dari Anarkisme aliran kiri dan eskrim kiri, maupun anarkisme aliran kanan bahkan sampai anarkisme ekstrem kanan yang berwatak individualistik. Meskipun anarkisme kelihatannya berakar pada paham kebebasan individual yang liberal, namun lokasi konflik pahamnya justru pada pada titik yang terletak antara negara dan masyarakat. Meskipun terdapat berbagai aliran pemikiran kaum narkisme dalam berpendirian terhadap lokasi konflik negara-masyarakat tersebut. Namun pendirian pendirian mereka sesungguhnya secara sederhana dapat dikatagorikan kedalam Anarki individualistik dan anarki sosialistik. Anarki Individualistik berangkat dari cita cita kebabasan individual, serta berpangkal juga dari kedaulatan individual atas pemilikan harta dan kekayaan pribadi, serta pemilikan privat. Dengan demikian arah anarki individualis ini adalah suatu bentuk dari anarki kapitalisme. Sementara anarki kiri yang berwatak sosialistik justru berangkat dari penolakan kekayaan pribadi dan negara yang menurut mereka sebagai sumber penyebab dari ketidakadilan sosial. Golongan anarki ini justru berpendirian perlunya pembatasan kekuasaan dan keperkasaan negara atas individu dalam kelompok kelompok masyarakat. Pendek kata paham ini adalah perkawinan antara paham bercorak liberalistik dan sosialisme. Itulah mereka juga disebut sebagai Sosialisme Libertarian.

Kalau kita telaah perkembangan pemikiran dan gerakannya, Anarkisme sudah lama sekali berkembang dan pemikiran tersebut masing berkembang hingga saat ini dengan nama, gaya dan bentuk yang berbeda-beda. Meskipun sudah lama berkembang, misalnya William Godwin (1756-1836) telah melontarkan gagasan yang diduga menjadi inspirasi paham Kooperasi sosialis model Owen, namun membincangkan paham anarkisme tidak dapat melupakan bagitu saja tokoh pemikir Proudhon yang pada dasarnyaa mengadaaopsi gagaan koperasi sosialis. Dia melihat bahka kekuasaan negara dan kekuasaan Modal adalah sinonim, sehingga mustahil baginya menggunakan negara untuk memperjuangan kaum proletar. Belakangan Bakunin melanjutkan gagasan tersebut, bedanya Bakunin menempuh jalan pengambilalihan secara revolusioner dan kekerasan untuk membangun kolektivisme. Peter Kropotkin salah seorang pengikutnya Bakunin melanjutkan gagasan tersebut secara lebih komunistik, yakni dengan menganjurkan gagasan “segala sesuatu milik setiap orang, dan pembagian didasarkan pada kebutuhan tertentu masing-masing.

Perkembangan praktek anarkisme demikian juga penentangnya dimana mana dan para buruhpun mulai mengadopsinya yang melahirkan suatu sempalan baru yang dikenal dengan “Anarcho-Syndicalism”, atau Revolutionary Syndicalism. Mulai dari pikiran bahwa fungsi serikat buruh yang secara tradisional memperjuangkan kenaikan upah dan perbaikan kondisi kerja dianggap sudah lagi tidak memadai. Serikat buruh harus menjadi organisasi militan untuk menghancurkan Kapitalisme dan negara. Buruh harus ambil alih pabrik-pabrik dan dikuasai. Dengan demikian, serikat buruh juga dituntut mampu untuk menjadi pengelola manajemen pada saat pasca revolusi. Pendek kata bagi mereka serikat buruh pada dasarnya berfungsi sebagai badan perlawanan, namun pada era pasca revolusi serikat buruh harus juga berfungsi dalam administrasi menjemen untuk mengelola industri. Untuk menjaga stamina militansi, suasana lingkungan perlu secara terus menerus dikembangkan untuk itu. Mereka, para anarki sindikalis dimasa lalu sangat percaya bahwa suatu aksi perlawanan yang massif akan mampu melumpuhkan negara dan bahkan sistim kapitalisme.

Bagaimana gerakan anarki saat ini dan masa mendatang? Saat ini sesungguhnya gerakan anarkisme tengah mengalami kemunduran. Kecuali di Spanyol gerakan anaki dihancurkan dimana-mana. Meskipun dua tokoh Anarki besar seperti Bakunin dan Kropotkin berasal dari Rusia, namun gerakan itu disana justru dikerdilkan oleh rezim totaliter disana maupun idenya dikooptasi oleh Partai Sosialia Revolusioner Narodniki.

Sementara ditempat lain dimasa lalu gerakan Anarkisme pernah mengalami kejayaannya. Contohnya, gerakan perlawanan sosio kultural yang dipelopori oleh Mahatma Gandhi dianggap sebagai realitas dari pengaruh Anarkisme di Asia. Gandhi berhasil mengembangkan gerakan resistensi dan pembangkangan social yang bersifat anti-kekerasan di Afrika Selatan dan India. Orang percaya bahwa Gandhi banyak membaca pikiran Anarkis seperti Leo Tolstoy dan Thoreau maupun Kropotkin. Meskipun impian Gndhi tentang suatu masyarakat komunal berbasis desa swadaya belum pernah terwujud, tetapi pemikirannya dilanjutkan orang orang sepahamnya dengan mengembangkan gerakan Sardovaya yang dipimpin oleh Vinoba Bhave Jaya Prakash Narayan yang mengembangkan gerakan pemilikan tanah secara kolektif yang dikenal dengan gramdan, dimana pada tahun 60-an menjadi gerakan yang mendapat sambutan secara luas di India.

Di Barat Anarkisme memang menjadi daya tarik kaum intelek. Anarkisme dianggap menjadi pendorong gerakan Civil rights di Amerika akhir tahun 1950-an, dimana warga kulit hitam Amerika melakukan resistensi terhadap ketidakadilan yang dilegalisir dalam konstitusi dengan menggunakan gerakan moral. Gerakan itulah yang dianggap sebagai picu gerakan social selanjutnya, dimana gerakan sosial makin meluas dan meruncing, tidak hanya terbatas sebagai gerakan civil rights tapi telah berkembang menjadi gerakan umum menentang struktur elitisme dan gerakan kritik terhadap gaya hidup materialisme masyarakat industri baik di negara negara Kapitalis maupun negara Komunis. Gerakan itu terus berlangsung hingga tahun tahun 1960-an dan 1970-an. Anarkisme dengan demikian telah menjadi identik dengan gerakan “counter culture” atau budaya tanding yang sangat popular dikalangan anak muda dan Mahasiswa dan kelompok kiri secara umum di Amerika dan Eropa serta Jepang. Namun watak anarkisme generasi ini memang lebih merupakan pemberontakan budaya ketimbang suatu hal yang berwatak ideologis.

Pendirian akan penolakan kaum anarki terhadap negara, serta desakan untuk desentalisasi dan otonomi lokal, sangat gaung kuat terhadap mereka yang bercita cita menegakkan demokrasai participatory. Jika gerakan sosial ditahun 60-an memendam semangat “buruh menguasai industri” maka kelihatannya pikiran Anarcho-Syndicalisme masih hidup. Tetapi Anarkisme generasi tahun 60-an dan 70-an memprakarsai suatu perlawanan masif dan berskala global melalui aksi langsung dengan membentuk parlemen jalanan mempunyai agenda yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Gerakan anarkisme era tersebut menunjukkan adanya indikasi kuat bahwa mereka menerima warisan pemikiran Bakunin tentang “pan-destructionisme” dimana mereka percaya bahwa sistim masyarakat yang ada saat itu sudah sangat rusak, korup dan munafik sehingga sudah tidak layak lagi untuk diperbaiki dan harus dibersihkan secara total.

Dari perbincangan ini, kita dapat memahami ternyata paham anarkisme tidak sesederhana yang selama ini diprsepsikan oleh banyak orang. Anarkisme juga memiliki anatomi dan bentuk gerakan yang bermacam macam. Menganggap tungal terhadap anarkisme yang sebenarnya beragam tersebut dapat memunculkan suatu kesalahpahaman yang tidak perlu. Karena memang paham anarkisme dalam perkembangannya pernah menjadi pendorong terhadap perubahan sosial menuju suatu masyarakat bebas dari otoritarianisme menuju pada suatu masyarakat egaliter, tanpa dominasi dan demokratis. Bahkan paham Anarkisme telah menjadi inspirasi terhadap lahirnya banyak karya sastra tentang kemanusiaan yang sangat berbudaya. Misalnya saja kritik Ivan Illich terhadap “sekolah” di awal tahun 70-an merupakan salah satu karya seorang anarkis yang memberi isnpirasi bagi berbagai upaya pembaharuan pemikiran dan metodologi pendidikan. Pendek kata sudah lama masyarakat luas menjadi semakin manusiawi dan beradab, justru karena inspirasi dari para pemikir anarkis.

Bagaimana masa depan Anarkisme? Pada saat ini rakyat secara global mnghadapi tantangan besar akibat dari menguatnya paham Neo-Liberalsime. Indikasi menguatnya paham ini telah mendorong tata ekonomi, politik, sosial dan budaya kedalam suatu zaman yang dikenal dengan era Globalisasi. Globalisasi yang merupakan suatu formasi sosial untuk pengintegrasian ekonomi nasional bangsa bangsa kedalam suatu sistim ekonomi Kapitalisme global, juga telah memincu munculnya gerakan anarkisme baru diawal abad ini. Proses Globalisasi yang memaksakan pembentukan sistim, tata relasi dunia baru ini membawa akibat semakin menguatnya institusi modal dan Negara-negara Kapitalis melalui WTO dan Lembaga Keuangan Internasional terdapat indicator telah membangkitkan semngat anarkisme lagi. Berbagai perlawanan rakyat secara global diberbagai tempat menentang WTO dan Bank Dunia menjadi saksi dari kebangkitan gerakan anarkisme lagi yang secara global dikenal yakni The World Bank dan International Monetary Fund (IMF). IMF inilah organisasi yang paling dianggap berkuasa di abad 20.

Justru pada era globalisasi inilah terdapat suatu gejala lahirnya kembali gerakan anarkisme global yang selama ini tidak banyak kedengaran. Globalisasi justru seakan membangunkan kaum anarkis dari tidur, atau paling tidak membangunkan gerakan sosial yang mendapat inspirasi dari kaum anarkis secara global, seperti gerakan anti WTO, gerakan anti Hutang seolah meneruskan gerakan Hijau, gerakan feminisme, gerakan masyarakat Adat ataupun gerakan rakyat kaum miskin kota dan sebagainya. Gerakan rakyat menentang pembangunan Dam dibeberapa tempat di Asia, seperti gerakan anti proyek pembangunan Dam Narmada di India tahun 1980-an, pada dasarnya merupakan suatu bentuk dari “New Social Movement” yang mendapat inspirasi dari pikiran anarkisme. Pada tahun 1992, gerakan untuk menyelamatkan Narmada ini berhasil mendesak Bank Dunia untuk mencabut dukungannya terhadap proyek tersebut. Gerakan yang “mewarisi sikap Kritis dan semangat anarkisme Mahatma Gandhi” ini adalah merupakan gerakan sosial yang menantang watak otoritarian kekuasaan negara dan sikap ekstraktif dari proses ekonomi yang dominan. Gerakan anarkisme yang dalam era itu juga disebut sebgai “New Social Movement” tumbuh dimana mana, dalam skala lokal, nasional, bahkan global.

Saat ini, sekali lagi kita menyaksikan suatu gerakan “koalisi global menentang WTO dan gerakan “Anti Hutang” Jubilee 2000, serta berbagai koalisi global menentang Bank Dunia, yang ditunjukkan dengan turunnya kembali kaum muda di jalan jalan kota-kota besar dunia setiap diselenggarakan pertemuan Globalisasi adalah fenomena resistensi sosial yang mengingatkan bangkitnya kembali gerakan anarkis atau bahkan terjaganya dari tidur panjang watak anarkis dari gerakan sosial. Gelombang sentimen untuk menentang watak dominasi Neo Liberalisme dan rezim Globalisasi yang mendunia saat ini, bukankah fenomena yang merupakan indikasi lahirnya kembali anarkisme. Masih banyak kasus yang saat ini tidak terungkap, bagaimana gerakan masyarakat di tingkat akar rumput melakukan resistensi terhadap Globalisasi yang pada dasarnya memiliki watak sebagai reinkarnasi pemikiran anarkisme. Misalnya saja gerakan para aktivis untuk membela para petani dari invasi budaya modernisasi pertanian revolusi hijau serta gerakan sosial untuk reformasi agraria dan hak hak petani (peasant rights) di Indonesia saat ini, apakah tidak dapat secara luas dianggap sebagai bangkitnya kembali falsafah anarkisme?.
(Oleh Alm. Mansour Fakih)

Amir Syarifudin


Membaca tulisan Sabam Siagian berjudul Diskusi tentang Alm Amir Sjarifoeddin (SP 31 Mei 2008) tampil lagi di layar ingatan saya beberapa snapshot Bung Amir, sebagaimana saya mengenalnya pada zaman pendudukan Jepang dan hari-hari pertama revolusi Indonesia. Pada suatu malam pertengahan 1942, zaman Jepang, di sebuah gedung di jalan yang kini bernama Merdeka Barat, Jakarta, Barisan Pemuda Asia Raya digembleng oleh Mr Amir Sjarifoeddin, pemimpin nasionalis terkenal. Atas dorongan Dr Abu Hanifah, saya dan Usmar Ismail memasuki perkumpulan Barisan Pemuda Asia Raya, yang selain dilatih berbaris secara militer oleh dua mantan opsir tentara KNIL juga diberi ceramah- ceramah mengenai nasionalisme.

Bung Amir menguraikan sejarah pergerakan nasional dan menganjurkan agar pemuda melanjutkan perjuangan untuk membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan. Pemuda harus senantiasa senasib sepenanggungan dengan rakyat. Juga mendengarkan kata wong cilik. Dia menggunakan sebuah tamsil, yaitu supaya pemuda mendengarkan "radio masyarakat". Saya sangat terkesan oleh kepandaian Bung Amir berpidato. Saya kemudian menulis cerpen untuk ikut dalam perlombaan mengarang yang diselenggarakan oleh majalah Djawa Baroe. Judul cerpen Radio Masyarakat, terpilih sebagai pemenang nomor tiga. Dikasih hadiah Rp 50. Kelak dimuat oleh HB Jassin dalam antologi sastra Gema Tanah Air. Karena buku itu dipakai dalam pelajaran sastra pelajar SMP, saya dikenal sebagai yang menciptakan istilah Angkatan 45 dalam kesusasteraan, dan sebagai penulis cerpen Radio Masyarakat.

Pertemuan kedua dengan Bung Amir terjadi di Stasiun Gambir petang hari 1 Oktober 1945. Pada hari itu Merdeka, yang dipimpin BM Diah, terbit untuk pertama kali. Sebagai redaktur pertama harian Merdeka bersama Wali Kota Jakarta Suwiryo saya menunggu kedatangan Bung Amir dari Surabaya. Dia ditangkap oleh Jepang pada Januari 1943, dituduh memimpin gerakan di bawah tanah yang dibiayai dengan uang sebesar 25.000 gulden dari Van der Plas sebelum kapitulasi Belanda kepada Jepang. Dia dihukum mati oleh Jepang, tapi berkat intervensi Soekarno vonis itu tidak dilaksanakan. Bung Amir telah diangkat sebagai Menteri Penerangan dalam kabinet pertama Presiden Soekarno. Turun dari kereta api dia tampak lelah dan kurus. Jelas dia telah disiksa oleh kempetai Jepang. Dia tidak dapat memberikan keterangan apa-apa kepada wartawan yang datang, cuma satu orang. Dia langsung pulang ke rumah istrinya di Jalan Merbabu. Saya ikuti dia ke sana. Dia tetap tidak mau bicara. Kecuali bertanya "Saudara dulu ada di mana?" Saya jawab "Saya orang biasa, Bung". Segera dia bertugas sebagai Menteri Penerangan. Pada 4 Oktober diselenggarakan konferensi pers pertama dengan koresponden luar negeri yang telah datang di Jakarta. Diceritakannya pengalamannya dalam gerakan bawah tanah melawan Jepang. Dengan tegas disimpulkannya: "Semua itu menunjukkan cerita-cerita orang di luar bahwa pemerintahan RI adalah boneka Jepang sama sekali tidak benar". Saya terkesan mendengar kefasihan dia bicara dalam bahasa Inggris.
Tak Banyak Bicara
Pada hari yang sama di kediaman Pegangsaan Timur 56 (kini Jalan Proklamasi), Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta menerima para koresponden luar negeri, yang pada waktu itu berpakaian seragam militer dan di pundak ada badge war correspondent. Soekarno didampingi oleh beberapa menteri, seperti, Menlu Subardjo, Mendagri Wiranatakusuma, Menteri Perekonomian Surachman, Menteri Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, Menteri Kehakiman Soepomo, dan Menteri Penerangan Amir Sjarifoeddin yang pakai celana pendek, kaus kaki panjang, gaya uniform Marsekal Lord Wavell. Dia tidak banyak bicara. Yang menjawab pertanyaan Presiden Soekarno
Pada 10 Oktober, Tiongkok merayakan peringatan Kuomintang. Di gedung Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Lapangan Banteng (di zaman Belanda Hooggerechtshof, Mahkamah Agung) Bung Amir berpidato tanpa teks yang dipersiapkan. Dia bicara lancar, menarik, karena merujuk pada fakta-fakta sejarah. Salah satu sound bite diutarakannya ialah "Kemerdekaan adalah jembatan emas untuk mencapai keadilan dan kemakmuran".
Kami berada di Yogya pada 10 November 1945 di Gedung Sociteite, tempat diadakannya Kongres Pertama Pemuda Indonesia. Presiden dan Wakil Presiden hadir, juga Menteri Penerangan. Pukul 10.00 di- terima telepon interlokal dari Surabaya yang mengabarkan "Inggris telah mulai membom". Sumarsono, pemimpin PRI (Pemuda Republik Indonesia), segera menginstruksikan agar delegasi Jawa Timur meninggalkan ruangan dan kembali ke front. Bung Amir mendekati saya dan berkata "Pergilah ke Surabaya. Beritakan pertempuran di situ". Itulah sebabnya saya dan rekan Mohammad Supardi dari Merdeka dengan naik kereta api yang membawa amunisi berangkat meliput pertempuran di Surabaya.
Saya lihat Bung Amir bersama Dr Ak Gani menyambut kedatangan delegasi Belanda di Pelabuhan Cirebon pada November 1946. Ketua Komisi Jenderal Belanda mantan PM Schermerhorn dan Letnan Gubernur Jenderal Van Mook sedang dalam perjalanan ke Linggajati di mana sudah menunggu PM Sutan Sjahrir. Saya tidak dapat bicara dengan Bang Amir waktu itu. Saya bukan wartawan, melainkan ditunjuk oleh pemerintah menjadi ajudan Lord Killearn, sehingga sibuk melayani diplomat Inggris yang jadi mediator perundingan Linggajati. Karena Sjahrir menolak tuntutan Belanda supaya menyetujui pembentukan gendarmerie yang bertanggung jawab atas keamanan dan di- kepalai oleh jenderal Belanda, sedangkan di pasal-pasal politik dia telah memberikan konsesi, terjadi krisis yang menyebabkan Sjahrir mengembalikan mandatnya. Amir Sjarifoeddin tampil sebagai PM pada 3 Juli 1947, tapi dalam kabinetnya Masyumi tidak ikut serta. Atas saran Soekarno, Bung Amir memasukkan orang-orang Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) seperti Wondoamisano, Arudji Kartawinata ke dalam kabinet dan dengan begitu Masyumi terpecah-belah. Sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Siasat, saya diminta datang ke Yogya untuk menghadiri konferensi pers yang diadakan oleh Bung Amir. Saya dengarkan uraiannya bahwa dia membutuhkan backing politik golongan Islam terhadap kabinetnya dan karena itu memasukkan PSII ke dalamnya. Tak lama setelah saya balik ke Jakarta, pada 21 Juli 1947 Belanda melancarkan aksi militernya yang pertama terhadap Republik.
Kapal Perang
Kesempatan berikut saya melihat Bung Amir ialah di kapal perang Amerika Renville, yang berlabuh di Tanjung Priok di mana diadakan perundingan dengan pihak Belanda. Bung Amir sedang bercakap-cakap dengan Profesor Frank Graham, wakil Amerika dalam Komisi Tiga Negara (KTN) yang jadi perantara dalam perundingan Renville, Desember 1947 dan berakhir dengan ditandatanganinya Persetujuan Renville 17 Januari 1948. Waktu bercakap-cakap dengan Graham di geladak Renville, Bung Amir memegang sebuah Kitab Injil. Reaksi partai Masyumi dan PNI terhadap teks perjanjian Renville yang telah ditandatangani oleh PM Amir Sjarifoeddin menimbulkan krisis kabinet. Bung Amir mengembalikan mandat dan kabinetnya digantikan oleh kabinet Mohammad Hatta pada 29 Januari 1948. Sejak itu Bung Amir hilang dari layar radar pengamatan saya. Dari pedalaman datang berita mengenai oposisi keras dari Sayap Kiri yang kemudian menjelma sebagai FDR (Front Demokrasi Rakyat) terhadap kabinet Hatta. Bung Amir aktif di dalamnya. Pada 11 Agustus, Suripno yang mewakili RI di Praha, bersama seorang "sekretaris" terbang dari Bukittinggi ke Yogya dan beberapa hari kemudian mengungkapkan bahwa "sekretaris" itu ada- lah Musso, gembong PKI yang sudah lama bermukim di Uni Soviet.Dengan cepat Musso membubarkan FDR, membentuk PKI. Bung Amir memberikan pengakuan publik bahwa sejak 1935 dia bergabung dengan "Partai Komunis Ilegal" yang dibentuk oleh Musso di Surabaya pada 1936. Lalu Setiadjit, Tan Ling Djie, dan Abdulmadjid, juga mengaku mereka adalah komunis.Pada 18 September 1948 dipimpin oleh Sumarsono pecah pemberontakan PKI di Madiun. Akibatnya, Soekarno-Hatta bertindak tegas terhadap PKI. Musso ditembak mati ketika melarikan diri. Bung Amir bersama Maruto Darusman ditangkap, kemudian menjelang akhir tahun dieksekusi di sebuah desa dekat Solo. Bung Amir tewas dengan menggenggam sebuah buku doa Kristen, setelah menyanyikan lagu "Internationale", dalam usia 41 tahun, masih muda. Apakah Bung Amir komunis? Pertanyaan ini saya ajukan kepada Bung Sjahrir yang menjawab "tidak". Tapi, Sjahrir tidak memberikan alasan mengapa dia menjawab begitu. Bagaimanakah Bung Amir waktu masih studen Rechts Hoge School di Batavia? Tanya saya kepada Dr Abu Hanifah, yang satu asrama dengan Bung Amir. Dijawabnya "Amir itu seniman. Di kamarnya dia suka main biola menggesek lagu-lagu klasik. Pada waktu itu karena pengaruh guru besarnya Profesor Schepper dia sedang tekun membaca Injil, sebagai orang yang semula Islam berganti agama memeluk Kristen. Tidak ada tanda-tanda dia tertarik pada komunisme". George McTurnan Kahin penulis buku Nationalism and Revolution in Indonesia menceritakan bahwa Amir Sjarifoeddin menjadi tokoh oposisi di barisan Sayap Kiri karena "kecewa kepada Amerika sewaktu perundingan Renville". Dia merasa ditinggalkan oleh AS yang katanya jago demokrasi itu. Tapi, keterangan lain yang saya dengar waktu itu sebabnya Amir menyatakan dirinya komunis adalah untuk tetap bisa berperan sentral di pentas politik, berada at center stage. Mana yang benar, siapa yang tahu? Bung Amir telah membawa sebuah misteri ke alam kubur. Orang boleh mengadakan kajian psiko-analisis dan mungkin di situ bisa diperoleh jawaban untuk menerangkan perilaku Bung Amir. Di mata saya, sebagai wartawan muda di zaman revolusi, Bung Amir adalah seorang nasionalis, idealis, tapi bersamaan juga tragis.

Amerika – Super Power Di Bawah Bayangan


AS mungkin telah memenangkan perang dingin dan 9/11. Tapi sekarang, kondisi ekonomi mereka telah membahayakan kekuatan global mereka sendiri.
Sebutlah ini geometri fraktal dari sebuah krisis fiskal. Jika Anda terbang melintasi Samudra Atlantik pada hari yang cerah, Anda dapat melihat ke bawah dan melihat fenomena yang sama tetapi dalam empat skala yang sama sekali berbeda. Pada satu ekstrem ada Islandia yang kecil. Lalu ada sedikit Irlandia, diikuti dengan si ukuran sedang, Inggris.
Semua negara itu lebih kecil daripada Amerika Serikat. Tapi dalam semua kasus krisis ekonomi, negara-negara itu mengalami hal yang sama: krisis perbankan yang akut, diikuti oleh krisis fiskal yang besar pula. Itu semua karena tindakan pemerintahnya yang telah mengeluarkan dana bail out untuk menyelamatkan system keuangan swasta.

Ukuran itu penting, tentu saja. Untuk negara-negara kecil, krisis keuangan adalah masalah besar. Namun untuk Amerika Serikat, krisis fiskal adalah sebuah ketakutan terbesar dalam keseimbangan ekonomi. Para ahli militer mempertanyakan pengiriman 30.000 tentara tambahan ke Afghanistan dan menyebutnya sebagai momen sesaat. Kenyataannya, keputusan Barack Obama—presiden AS—akan menggoyahkan keamanan negara dalam jangka panjang. Sebutlah Amerika sebagai negara superpower, jika Anda mau, atau kerajaan, tapi kemampuannya dalam mengelola keuangannya sangat terikat dengan kekuasaan global militernya. Suatu hal yang mencekik.
John Maynard Keynes pernah berdebat bahwa menaikkan anggaran utang federal akan menghindari depresi jilid dua. Mungkin, meskipun sebagian pihak akan mengatakan bahwa stimulus fiskal telah membumbung namun sihir dari pengaliannya berubah menjadi nol. Kredit menjadi sangat laten, karena segala macam kenaikan di Amerika akan turun lebih rendah tanpa adanya pengeluaran dari pemerintah. Itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Ingat, apa yang membuat sebuah stimulus berhasil adalah perubahan dalam memimjam semua sektor publik. Karena pemerintah federal telah mengalami defisit, dan karena negara juga menaikkan pajak dan memangkas anggaran, ukuran stimulus yang sebenarnya akan terus turun.

Ayo kita lihat fiskal AS di tahun 2009. Berjumlah lebih dari $1,4 trilyun—sekitar 11,2 persen dari GDP, menurut Congressional Budget Office (CBO). Itu adalah angka defisit stimulus paling besar sejak tahun 1942. Artinya, orang Amerika mempunyai kebijakan fiskal yang sama dengan ketika terjadi perang dunia, padahal perangnya sendiri tidak ada. Mungkin betul, AS tengah berperang di Afghanistan dan masih menempatkan pula beberapa ribu pasukan di Iraq, tapi “kontribusi” mereka pada badai fiskal hanya 1,8 persen dari GDP, bahkan jika diakumulasikan dari $3,2 trilyun seperti yang dipublikasikan oleh ekonom Kolumbia, Joseph Stiglitz di bulan Februari 2008.
$1.4 trilyun hanya permulaan. Menurut CBO, defisit pemerintah akan mencapai 11,2 persen tahun ini, 6,1 persen pada 2012, dan 3,7 persen pada 2012. Setelah itu, angka defisit akan terus bertahan di 3. Sementara dalam terminologi dollar, total utang yang meningkat adalah dari $5,8 trilyun pada tahun 2008 menjadi $14,3 trilyun di tahun 2011! Artinya, dari 41 persen menjadi 68 persen.

Dalam kata lain, orang Amerika akan menanggung utang selama sisa hidupnya. Setidaknya sampai pajak dipotong, tak akan pernah ada anggaran yang seimbang. Katakanlah, seseorang sekarang ini hidup sampai 30 tahun kemudian dan mengiringi kematian kakeknya yang berusia 75 tahun. Pada tahun 2039, utang federal terhadap masayrakat akan mencapai 91 persen dari GDP—itu menurut CBO. Paul Krugman, seorang ekonom menyindir, tak ada yang perlu dikhawatirkan, karena pada tahun 1945, defisit AS mencapai 113 persen.
Tapi itu tahun 1945, bukan 2039. Utang akan menerjang sampai 215 persen pada 2039, dan betul, dua kali lipat lebih dari seluruh ekonomi AS. Ini bukan cuma sekadar prediksi. Ini adalah suatu efek dari ketidakseimbangan anggaran dan pengeluaran, yang sekarang, semua implikasinya telah begitu jelas.

Bagian 2
Sementara AS tengah bersitegang dengan mata uang dan fiskalnya sendiri, di belahan bumi lain, Beijing merangsek. Selama lebih dari lima tahun, mereka telah mengumpulkan dollar—mata uang cadangan internasional, dalam cara yang sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya, terutama sebagai hasil dari intervensi untuk mencegah mata uang Cina jatuh wibawanya di hadapan dolar.

Sekarang, Republik China memiliki sekitar 13 persen dari obligasi pemerintah AS dan dengan catatan itu semua di tangan publik. Tapi tidak ada yang namanya makan siang gratis di dunia keuangan internasional.
Menurut Fred Bergsten dari Peterson Institute for International Economics, jika tren ini berlanjut, defisit neraca pembayaran AS dapat meningkat sampai 15 persen dari PDB pada tahun 2030, dan utang bersih ke seluruh dunia bisa mencapai 140 persen PDB. Dengan skenario semacam itu, AS harus membayar sebanyak 7 persen dari PDB setiap tahun untuk layanan pinjaman kepada pihak asing.
Mungkinkah itu terjadi? Memang belum pasti. Untuk satu hal, depresiasi dolar yang signifikan tampak lebih jelas . Namun posisi Amerika Serikat selalu lebih beruntung karena mempunyai hak untuk mencetak uang sendiri.
Akibatnya, akan muncul prediksi bahwa pemerintah biasanya akan melakukan beberapa cara: mencetak uang, baik untuk membayar tagihan saat ini dan untuk membayar utang, sehingga menjadi jelas, suku bunga akan melambung .

Paul Krugman, “sang nabi” Keynesianisme, menulis kembali pada Maret 2003. Setahun setengah kemudian ia membandingkan defisit AS dengan defisit Argentina—pada saat itu 4,5 persen dari PDB. Argentina adalah sebuah defisit sangat besar, namun tahun depan, dunia mungkin akan menyaksikan defisit lain yang lebih besar lagi.
Sejarah sangat mendukung bahwa krisis keuangan selalu diikuti oleh krisis fiskal yang besar. "Rata-rata," tulis Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff dalam buku baru mereka, This Time Is Different, "utang pemerintah meningkat 86 persen selama tiga tahun setelah krisis perbankan." Sebagai akibat ledakan utang ini, salah satu dari dua hal bisa terjadi: kembali ke seperti semula, biasanya ketika utang dalam mata uang asing, atau serangan inflasi yang tinggi yang bisa memalingkan wajah para kreditur. Semua sejarah kerajaan Eropa akrab dengan episode tersebut. Memang, inflasi yang tinggi cenderung menjadi yang paling pasti dari gejala penurunan kekuasaan.
Sepertinya Amerika Serikat tidak mungkin ke posisi pada awal utang, karena itu semua dalam dolar. Pertanyaan kuncinya, apakah kita akan melihat Bank Sentral "mencetak uang dengan tentu saja diikuti oleh kisah akrab kenaikan harga dan penurunan beban utang yang nyata. Ini adalah skenario yang membuat banyak investor di seluruh bumi ketakutan. Itulah sebabnya mereka menjual dolar. Itulah sebabnya mengapa mereka membeli emas.
Dengan pengangguran AS di atas 10 persen, serikat buruh relatif lemah, dan sejumlah besar kapasitas terpakai manufaktur global, tidak ada satu pun dari tekanan yang dibuat untuk stagflasi (pertumbuhan rendah ditambah dengan harga tinggi) pada 1970-an. Ekspektasi inflasi masyarakat juga sangat stabil, sejauh dapat dinilai dari data polling dan perbedaan antara pemasukan yang teratur dan inflasi yang dilindungi obligasi.

Jadi, inilah skenario lain--yang mungkin lebih buruk daripada skenario inflasi. Apa yang terjadi adalah bahwa kita mendapatkan kenaikan tingkat bunga riil, dimana tingkat bunga aktual dikurangi inflasi. Menurut sejumlah besar penelitian empiris oleh para ekonom, termasuk Petrus Orszag (sekarang di Kantor Manajemen dan Anggaran), peningkatan yang signifikan dalam utang GDP ratio cenderung untuk meningkatkan tingkat bunga yang nyata.
Salah satu studi baru-baru ini menyimpulkan bahwa "20 persen peningkatan dalam pemerintah AS utang GDP ratio harus mengarah pada 20-120 basis poin [0,2-1,2 persen] kenaikan tingkat suku bunga riil." Hal ini dapat terjadi di salah satu dari tiga cara: tingkat bunga nominal meningkat dan inflasi tetap sama; tingkat nominal tetap sama dan inflasi turun, atau-kasus mimpi buruk tingkat bunga nominal dan inflasi naik turun.
Kaum Keynesian sekarang ini menyangkal bahwa ini bisa terjadi. Tapi bukti sejarah melawan mereka. Ada sejumlah kasus masa lalu (misalnya, Prancis pada tahun 1930-an) ketika tingkat nominalnya meningkat bahkan pada saat deflasi.
Terlebih lagi, tampaknya terjadi di Jepang sekarang. Baru minggu lalu Hirohisa Fujii, menteri keuangan Jepang yang baru , mengakui bahwa ia "sangat prihatin" tentang kenaikan obligasi pemerintah Jepang baru-baru ini. Pada minggu yang sama, pemerintah mengakui bahwa Jepang sudah kembali ke deflasi setelah tiga tahun kenaikan harga.

Ini tidak dapat dibayangkan bahwa hal serupa bisa terjadi di Amerika Serikat. Investor asing bisa saja meminta nominal yang lebih tinggi atas Keuangan AS untuk mengimbangi mereka karena melemahnya dolar. Dan inflasi mungkin akan terus mengejutkan rakyat AS pada sisi negatifnya. Bagaimanapun, inflasi harga konsumen di wilayah sangat negatif sekarang in

Bagian 3
Mengapa Amerika begitu takut akan tingkat inflasi real estate di negara mereka? Jawabannya: ini karena utang pemerintah yang sangat besar dan bahkan dibebankan kepada rakyat, dan itu akan terus bertambah dan bertambah semakin berat. Durasi jangka pendek dari utang ini juga berarti sebuah isyarat langsung bahwa hal itu bergulir setiap tahun; dan itu artinya setiap kenaikan akan membuat sistem yang sudah berjalan saat ini menjadi sangat mengerikan.
Pemerintah federal AS saat ini sudah menaikan pembayaran bunga sebanyak 8 persen dari pendapatan pada tahun 2009, menjadi 17 persen tahun 2019 nanti, meskipun tingkat pertumbuhan tetap rendah. Bahkan jika tingkat pendatapan naik pun dan ekonomi berjalan sedikit stabil, AS hanya akan mendapatkan sampai 20 persen lebih cepat. Dan sejarah menunjukkan bahwa setelah negara menghabiskan seperlima penghasilan negara untuk membayar utang, negara tetap akan punya masalah.
Ini semua terlalu mudah untuk menemukan negara dalam lingkaran setan yang semakin menurun kredibilitasnya. Para investor tidak percaya bahwa negara dapat membayar utangnya, sehingga mereka menekan biaya bunga yang lebih tinggi, yang membuat posisi negara—dalam hal ini, AS—lebih buruk lagi.

Hal ini jelas, masalah besar untuk negara besar itu daripada sebuah pulau kecil di Atlantis, karena satu alasan sederhana. Karena pembayaran bunga memakan anggaran, maka akan ada sesuatu yang harus dikeluarkan dan ada sesuatu yang lain pula yang hampir pasti selalu menggeoroti pertahanan pengeluaran. Menurut CBO, penurunan yang signifikan dalam anggaran federal sudah seperti adonan yang dimasukkan ke dalam kue. Rencana Pentagon saat ini, anggaran pertahanan dari 4 persen sekarang menjadi 3,2 persen dari PDB pada tahun 2015 dan menjadi 2,6 persen dari PDB pada 2028.
Maka, pada rencana jangka panjang, mungkin pada 2039, pengeluaran kesehatan meningkat dari 16 persen menjadi 33 persen dari PDB (sebagian uang mungkin akan membuat rakyat AS kadaluarsa lebih cepat). Tapi pengeluaran segala sesuatu selain kesehatan, jaminan sosial, dan pembayaran bunga, turun dari 12 persen menjadi 8,4 persen.

Begitulah kerjaan Amerika akan tenggelam. Dimulai dengan ledakan utang, dan diakhiri dengan pengurangan yang terelakkan dari sumber daya yang tersedia untuk Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. Itulah sebabnya rakyat AS benar-benar khawatir tentang krisis utang Amerika. Menurut laporan Rasmussen baru-baru ini, 42 persen orang Amerika sekarang mengatakan bahwa “Tidak” untuk pemotongan anggaran kesehatan.
Jika Amerika Serikat tidak segera datang dengan rencana yang kredibel untuk mengembalikan keseimbangan anggaran federal selama lima sampai 10 tahun, bahaya ini sangat nyata bahwa krisis utang dapat mengakibatkan melemahnya kekuasaan besar Amerika.

Semua presedennya sudah terjadi. Spanyol gagal dalam membayar utangnya sebanyak 14 kali antara 1557 dan 1696 dan menyerah pada inflasi akibat kelebihan Dunia Baru. Sebelum revolusi, Prancis menghabiskan 62 persen dari pendapatan negara untuk membayar utang pada 1788. Kekaisaran Ottoman mati dengan cara yang sama: pembayaran bunga meningkat 15 persen dari anggaran tahun 1860 menjadi 50 persen pada tahun 1875. Dan jangan lupakan Inggris. Pada tahun-tahun peperangan, pembayaran bunga memakan 44 persen dari anggaran Inggris, sehingga sangat sulit untuk mempersenjatai kembali dalam menghadapi ancaman Jerman baru.
Sebut saja ini arimetika fatal tentang kejatuhan sebuah kerjaan. Tapi, tanpa reformasi fiskal yang radikal, semua itu tak sangsi lagi, akan terjadi pada Amerika.

Afonso de Albuquerque dan Jejak Portugis di Indonesia


Rasa ingin tahu tak tertahankan saat Margaritha Pareira, pemandu wisata di rombongan wisata kota Lisabon itu, menunjuk patung yang menghadap Sungai Tagus, Lisabon, Portugal, akhir 2007 lalu. Keesokan harinya pemandu lain, Teresa, juga bercerita hal yang sama ketika melewati patung itu.
Patung di tengah taman yang asri adalah patung Afonso (kadang juga ditulis Alfonso) de Albuquerque. Karena tokoh inilah, barangkali yang membuat kawasan Nusantara waktu itu dikenal oleh orang Eropa dan menjadi saat dimulainya kolonisasi berabad-abad oleh Portugis bersama bangsa Eropa lain, terutama Inggris dan Belanda.

Dari Sungai Tagus yang bermuara ke Samudra Atlantik itulah armada Portugis mengarungi Samudra Atlantik, mungkin makan waktu sebulan hingga tiga bulan, melewati Tanjung Harapan Afrika, menuju Selat Malaka. Dari sini penjelajahan dilanjutkan ke Kepulauan Maluku untuk mencari rempah-rempah, komoditas yang setara emas kala itu.
Tidak jauh dari patung Albuquerque itu terdapat bangunan bekas Biara Santo Jeronimos. Biara yang kini dijadikan Museum Arkeologi dan Museum Maritim tersebut dulunya adalah kapel. "Pada abad 16 saat petualangan itu dimulai biasanya para pelaut negeri Katolik itu diberkati oleh pastor dan raja sebelum berlayar melalui Sungai Tagus," kata Teresa. Biara St Jeronimus atau Biara Dos Jeronimos dalam bahasa Portugis itu didirikan oleh Raja Manuel pada tahun 1502 di tempat saat Vasco da Gama memulai petualangan ke timur.
Untuk mengobati rasa ingin tahu, dua hari kemudian, di sela-sela sempitnya waktu dan banyaknya acara, kesempatan tak disia-siakan untuk mengunjungi Museum Maritim dengan taksi, untuk menyaksikan barangkali masih ada tersisa peninggalan Afonso de Albuquerque tersebut. Museum Maritim atau orang Portugis menyebut Museu de Marinha itu didirikan oleh Raja Luis pada 22 Juli 1863 untuk menghormati sejarah maritim Portugis.
Selain patung di taman, lukisan Afonso de Albuquerque juga menjadi koleksi museum itu. Di bawah lukisan itu tertulis, "Gubernur India 1509-1515. Peletak dasar Kerajaan Portugis di India yang berbasis di Ormuz, Goa, dan Malaka. Pionir kebijakan kekuatan laut sebagai kekuatan sentral kerajaan". Berbagai barang perdagangan Portugis juga dipamerkan di museum itu, bahkan gundukan lada atau merica.
Ada sejumlah motivasi mengapa Kerajaan Portugis memulai petualangan ke timur. Ahli sejarah dan arkeologi Islam Uka Tjandrasasmita dalam buku Indonesia-Portugal: Five Hundred Years of Historical Relationship (Cepesa, 2002), mengutip sejumlah ahli sejarah, menyebutkan tidak hanya ada satu motivasi Kerajaan Portugis datang ke Asia. Ekspansi itu mungkin dapat diringkas dalam tiga kata bahasa Portugis, yakni feitoria, fortaleza, dan igreja. Arti harfiahnya adalah emas, kejayaan, dan gereja atau perdagangan, dominasi militer, dan penyebaran agama Katolik.
Menurut Uka, Albuquerque, Gubernur Portugis Kedua dari Estado da India, Kerajaan Portugis di Asia, merupakan arsitek utama ekspansi Portugis ke Asia. Dari Goa, ia memimpin langsung ekspedisi ke Malaka dan tiba di sana awal Juli 1511 membawa 15 kapal besar dan kecil serta 600 tentara. Ia dan pasukannya mengalahkan Malaka 10 Agustus 1511. Sejak itu Portugis menguasai perdagangan rempah-rempah dari Asia ke Eropa. Setelah menguasai Malaka, ekspedisi Portugis yang dipimpin Antonio de Abreu mencapai Maluku, pusat rempah-rempah.
Rui Manuel Loureiro, peneliti dari Pusat Studi Asia Tenggara (Cepesa) Portugal, dalam buku di atas juga menyebutkan, pada periode 1511-1526, selama 15 tahun, Nusantara menjadi pelabuhan maritim penting bagi Kerajaan Portugis, yang secara reguler menjadi rute maritim untuk menuju Pulau Sumatera, Jawa, Banda, dan Maluku.
Kolonisasi hampir 500 tahun itu sekarang masih berjejak, bahkan mungkin tidak dirasakan. Seperti telah disebut di atas, salah satu yang paling mudah diingat adalah kata "gereja" di Indonesia yang berasal dari bahasa Portugis igreja. Puluhan gereja di Lisabon—orang Portugis menyebutnya Lisboa—sekarang juga disebut igreja. Misalnya sejumlah gereja terkenal di Lisabon, yaitu Igreja de Santa Engracia, Igreja de Sao Roque, atau Igreja de Santo Antonio de Lisboa.
Bekas diplomat Portugal di Indonesia, Antonio Pinto da Franca, dalam bukunya Portuguese Influence in Indonesia (Gunung Agung, 1970), menginventarisasi paling tidak ada 75 kata Indonesia berasal dari Portugis. Beberapa kata mungkin terasa asli Indonesia. Sebut misalnya, sisa dari sisa, terigu dari terigo, tempo dari tempo. Kata lain, misalnya, bangku dari banco, beranda dari varanda, boneka dari boneca, kaldu dari caldo, meja dari mesa, pesta dari festa. Ada juga sekolah dari escola, pigura dari figura, dan sepatu dari sapato.
Selain bahasa, da Franca yang tampaknya sudah berkeliling Indonesia itu mencatat berbagai peninggalan Portugis di berbagai tempat di Tanah Air, mulai dari Aceh, Maluku, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, hingga ke Flores. Beberapa yang masih ada adalah Gereja Tugu di Jakarta Utara, beberapa benteng di Makassar atau Jepara. Bahkan Taman Sari di Yogyakarta dianggap sebagai sisa arsitektur Portugis.

Adolf Hitler


Adolf Hitler (1889-1945), German political and military leader and one of the 20th century's most powerful dictators. Hitler converted Germany into a fully militarized society and launched World War II in 1939 (see Federal Republic of Germany). He made anti-Semitism a keystone of his propaganda and policies and built the Nazi Party (see National Socialism) into a mass movement. He hoped to conquer the entire world, and for a time dominated most of Europe and much of North Africa. He instituted sterilization and euthanasia measures to enforce his idea of racial purity among German people and caused the slaughter of millions of Jews, Sinti and Roma (Gypsies), Slavic peoples, and many others, all of whom he considered inferior.

Early Years
Adolf Hitler was born in Braunau am Inn, Austria-Hungary, in 1889, the fourth child of Klara and Alois Hitler. Hitler’s father worked his way up in the Austrian customs service to a position of considerable status, and as a result Hitler had a comfortable childhood. Hitler began school in 1900, and his grades were above average. It was decided that he would attend Realschule, a secondary school that prepared students for further study and emphasized modern languages and technical subjects. However, Hitler and his father strongly differed about career plans. His father wanted him to enter the civil service; Hitler insisted on becoming an artist. As a result, Hitler did poorly in Realschule, having to repeat the first year and improving little thereafter.
During this time, Hitler began to form his political views: a strong sense of German nationalism, the beginnings of anti-Semitism, and a distaste for the ruling family and political structure of Austria-Hungary. Like many German-speaking citizens of Austria-Hungary, Hitler considered himself first and foremost a German.
The death of Hitler’s father in January 1903 changed the family. The survivors' income was adequate to support Hitler, his mother, and his sister, but the absence of a dominant father figure altered Hitler's position in the family. He spent much time playing and dreaming, did poorly in his studies, and left school entirely in 1905 after the equivalent of the ninth grade.

Time in Vienna
Hitler had hoped to become an artist but was rejected as unqualified by the Vienna Academy of Fine Arts in October 1907. His mother died in 1908, and Hitler pretended to continue his studies in Vienna in order to receive an orphan’s pension. In reality, he mostly wandered about the city admiring its public buildings and frequently attending operas, especially those of Richard Wagner, whom Hitler adored for his heroic portrayals of German mythology.
When he had exhausted his inherited funds, Hitler, unwilling to take a job, ended up in a homeless shelter. It was there that he was first exposed to extreme political ideas, particularly the racial concepts of Lanz von Liebenfels. Liebenfels published a periodical about the supposed superiority of Aryans, an ill-defined race which included Germans, and the inferiority of other races, especially Jews. At the same time Hitler acquired a hatred for socialism and came to equate it with the Jews.
Between 1910 and 1913 Hitler’s life improved when he began to paint and sell postcards and pictures for a living, copying famous paintings and drawing public buildings. He debated ideas with others in the hostel in which he lived, developing the beginnings of his public speaking style. Failure to register for the draft in Austria led him to flee for Munich, Germany, in 1913 to escape Austrian authorities. He was extradited to Austria but was found physically unfit to serve in the military. He then returned to Munich.

World War I
The outbreak of World War I in 1914 came as an opportunity for Hitler, as his money was running out. He volunteered for a Bavarian unit in the German army and served the whole war. Though repeatedly decorated for bravery, he was never promoted beyond the rank of corporal. In a war of very high casualties, this is difficult to explain. Perhaps officers considered him a loner who could carry messages and perform other dangerous duties but who was unsuited to command men.
Hitler saw trench warfare as a form of the struggle for survival among races, a struggle that he was coming to see as the essence of existence. At the same time, his anti-Semitic feelings were growing extreme. When Germany was defeated in 1918, Hitler was lying in a military hospital, temporarily blinded by mustard gas. He decided Jews had caused Germany’s defeat and that he would enter politics to save the country.
Hitler returned to Munich after the war. He was selected to be a political speaker by the local army headquarters, given special training, and provided with opportunities to practice his public speaking before returning prisoners of war. His speaking successes led to his selection as an observer of political groups in the Munich area. In this capacity, he investigated the German Workers' Party—one of the many nationalist, racist groups that developed in Munich in the postwar years.

Beginnings of the Nazi Party
The German Workers' Party, later renamed the National Socialist German Workers’ Party (abbreviated NSDAP or Nazi Party), became Hitler’s political focus. Here he found an outlet for his talents in political agitation and party organization. The party espoused essentially the same ideas Hitler had picked up in Vienna: violent racial nationalism and anti-Semitism. He also shared the Nazis’ opposition to the liberal democracy of the German Weimar Republic, which had been established after the war.
Though still in the army, Hitler quickly became the new spokesman for the party. His talent for public speaking and the use of the local army's resources to generate publicity drew large audiences to events sponsored by an organization that had only 100 to 200 members. When he presented the party's official program to a gathering on February 24, 1920, there were almost 2000 present.
Hitler was discharged from the army the following month, and he soon attained dominance in the Nazi party. He was the party’s most effective recruiter and, thanks to paid attendance at his speeches, its most successful fundraiser. When opposed within the party, he found ways to push out rivals and dissenters. Several times he did so by threatening to leave the party himself. Hitler obtained enough support to have himself chosen as Führer (absolute leader) of the party on July 29, 1921.


The Nazi Regime
Immediately upon becoming chancellor, Hitler moved to consolidate his power. He persuaded Hindenburg to issue a decree suspending all civil liberties in Germany. A subservient legislature passed the Enabling Act, which permitted Hitler's government to make laws without legislative approval. The act effectively made the legislature powerless. Hitler then installed loyal Nazis in important posts in the bureaucracy, the judiciary, and the German provincial governments. He replaced all labor unions with the Nazi-controlled German Labor Front and banned all political parties except his own. The economy, the media, and all cultural activities were brought under Nazi authority. An individual's livelihood was made dependent on his or her political loyalty. Thousands of anti-Nazis were taken to concentration camps—the existence of which was widely publicized—and all signs of dissent were suppressed. A massive propaganda campaign celebrated the end of democracy in Germany, and huge, staged demonstrations gave the impression that everyone supported Hitler.

Existing social, economic, and professional organizations were quickly taken over by individuals either already in the party or who would quickly join it. For the most part, leaders of Germany’s Protestant and Catholic churches rallied to the new government. Schools taught Nazi ideology. Soon the spare time of the young was absorbed by the Nazi Party as well—boys were drawn into the Hitler Youth, and girls became members of the Nazi-led League of German Girls. The goal was to indoctrinate people into the party starting at a young age. By the summer of 1933, the Nazi Party was in complete control of the country.

Hitler’s Racial Policies
In 1933 Hitler initiated policies to rid the Aryan race of undesirable elements and eliminate other races that he considered inferior and dangerous to the Germans. First, the government approved marriage loans to the “right kind” of Germans—those whose ancestors and appearance measured up to the Nazi’s standard of Aryan purity. These loans were repaid as the newlyweds produced babies. To discourage the propagation of the “wrong kind” of people, a law required the compulsory sterilization of men and women deemed likely to have defective children, primarily those with physical or mental handicaps. By 1945 some 400,000 Germans had been sterilized.
The first discriminatory laws against Jews also came in 1933. These laws barred Jews from government employment and restricted their admission to universities. In subsequent years, the anti-Semitic laws became increasingly harsh, as Jews were deprived of citizenship, excluded from more and more jobs, forbidden to own cars, thrown out of public schools, and stripped of their property. These events culminated in Kristallnacht (the “Night of Broken Glass”), the night of November 9, 1938, when Nazi mobs killed dozens of Jews, smashed thousands of windows in Jewish neighborhoods, and set fire to almost all Jewish houses of worship throughout Germany. Following Kristallnacht, the Nazis sent more than 30,000 Jews to concentration camps. Hundreds of thousands of others fled the country.

Rearmament of Germany
Starting in 1933, Hitler began the process of German rearmament and militarization that would eventually lead to World War II. Hitler’s plans for conquest consisted of four distinct wars. The first war would be against Czechoslovakia (now the Czech Republic and Slovakia). He was certain that the Czechs would put up little resistance and Czech territory and resources could then be used to further his continuing plans for conquest. Hitler’s second war would be against Britain and France. He expected this to be the most difficult conflict, as these countries had defeated Germany during World War I. Hitler prepared for this war during the 1930s.
The third war would be against the Union of Soviet Socialist Republics (USSR), where Hitler planned to seize huge portions of territory for German settlement. However, Hitler badly miscalculated when he assumed the conquest of the USSR would be simple. His assumption was based on his belief that the Soviets, many of whom were of Slavic descent, were an inferior race controlled by the Jews under the guise of socialism. As a result, Hitler made no military preparations for that war and counted on a quick victory to provide Germany with the resources, especially the oil, needed for the fourth war, which was to be waged against the United States. Hitler felt that actually fighting the Americans would be easy, but technical preparations for the conflict had to be made well in advance because the United States was far away and had a large navy.
These military preparations with their enormous construction projects accelerated the economic recovery in Germany that had begun in 1932. Soon Germany faced a labor shortage instead of unemployment. As rearmament shifted into high gear, Hitler found he was short of money to buy foreign materials. This fact, combined with a desire to rely on domestic resources, led Hitler to inaugurate the Four-Year Plan in 1936. The plan called for Germany to be self-sufficient and ready for war in four years. Once the production of weapons for war against France and Britain was under way, Hitler in 1937 ordered the design and production of weapons for war with the United States. These arms included bombers that could reach America and a fleet of superbattleships that Hitler planned to be the core of a dominant navy.
In response to Hitler’s call for German self-sufficiency, German steelmakers protested that the quality of domestic ores was too poor to use. When industry leaders refused to process the low-grade domestic ores, Hitler forced them to pay for a government-owned company that would. German industry was producing synthetic oil by 1933, and synthetic rubber and other substitutes followed. Hitler insisted that German workers be treated carefully and generously because he believed that domestic unrest caused by the hardships of war had brought about Germany’s defeat in World War I. During World War II, this policy required German armies to loot occupied territories, which resulted in the German people having the highest wartime rations in Europe.

Military Alliances
Despite Hitler’s drive for German self-sufficiency he knew that Nazi forces alone could not overcome the major European powers—at least not at first—and he began to seek allies. Hitler had long hoped to win the support of Italy in any coming war. He admired Italian dictator Benito Mussolini, whose nationalistic and militaristic policies mirrored his own. This admiration was reciprocated, and in 1936, Hitler and Mussolini established the Rome-Berlin Axis. Hitler then turned to Japan as a possible ally against Britain and France. In 1940 the Rome-Berlin Axis was extended to include Japan and became the Rome-Berlin-Tokyo Axis.

The End of The War
By the time of the Allied D-Day invasion of Normandy (Normandie), in northern France, in June 1944, the war was going very badly for Hitler. A series of losses to the Allies and failure to defeat the Soviets had left Hitler’s armies severely weakened. Hitler's Germany had also changed a great deal. British and American bombers were devastating its industries and cities. The Germans who had reservations about Hitler’s regime had begun to find some recruits. However, most of the population still supported the regime and especially Hitler; consequently, those opposed to him saw his assassination followed by a military takeover as the only way to topple the dictatorship. Several assassination attempts, beginning in March 1943, miscarried. A bomb was placed in Hitler’s headquarters at Rastenberg in East Prussia (modern Poland) on July 20, 1944, but did not kill him (see July Plot). The conspirators tried to launch their coup anyway, but with little support the effort failed. Hundreds involved in the coup attempt were executed, and Hitler maintained control of the country.
Underestimating the Americans, Hitler launched his last reserves west into the Ardennes country of Belgium and Luxembourg in the Battle of the Bulge (December 1944-January 1945). He felt that despite massive Allied gains, a hard blow would cause popular support for the war in America to collapse, and would lead to the disintegration of the coalition arrayed against him. All he accomplished, however, was to draw away troops needed in the east, allowing the Soviet army's winter offensive to roll all the way to the gates of Berlin. Hitler decided to remain in the city, hoping to inspire its defenders and anticipating a breakup of the Allies’ alliance. When neither of these hopes were realized, he appointed Karl Dönitz, the head of the navy and a devoted Nazi, as his successor. He then married his mistress Eva Braun and committed suicide in Berlin on April 30, 1945.

Ada Apa Dengan Sejarah ?


Ada apa lagi dengan kurikulum sejarah? Itulah pertanyaan yang muncul di benak kita ketika mendengar berita terkait pelarangan beredarnya buku-buku teks sejarah untuk SMP-SMA sederajat oleh Kejaksaan Agung.
Sebelum pelarangan itu dilakukan, beberapa waktu lalu kita pun sudah disuguhi pemberitaan terkait diperiksanya kepala Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) oleh Kejaksaan Agung. Pemeriksaan itu dilakukan terkait dengan beredarnya buku sejarah untuk SMP-SMA sederajat yang tidak mencantumkan kata PKI di belakang penyebutan G 30 S (Gerakan 30 September), salah satu peristiwa sejarah politik yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1965.
Pertanyaan ini wajar muncul karena memang sudah sejak lama pelajaran sejarah di sekolah sering menimbulkan kontroversi. Sebut saja di antaranya keberadaan mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) yang mengundang reaksi. PSPB dinilai sarat dengan kepentingan politik untuk melestarikan kekuasaan Orde Baru melalui penanaman "nilai-nilai" sejarah perjuangan bangsa sejak kemerdekaan sampai masa pemerintahan Orde Baru.

Ada lagi soal konflik dalam penyusunan buku babon setebal enam jilid berjudul Sejarah Nasional Indonesia, yang berakhir dengan mundurnya beberapa sejarawan penulisnya yang ingin tetap mempertahankan prinsip akademis daripada harus mengikuti kemauan penguasa. (Asvi Warman Adam, Pengantar dalam Berpikir Historis, 2006).
Kontroversi lain juga muncul ketika orang mulai mempertanyakan kembali otentisitas naskah Supersemar yang diberikan Soekarno kepada Soeharto, menjelang terjadinya peralihan kekuasaan, yang disinyalir bukan naskah asli dan isinya tidak memuat apa yang sesungguhnya dikehendaki Soekarno saat itu.
Dan, beberapa waktu, hangat pula dibicarakan seputar buku Habibie yang mengundang kontroversi baru karena mengungkapkan fakta yang dibantah oleh Prabowo sebagai salah satu pelaku sejarah dalam peristiwa yang dikisahkan Habibie di dalam bukunya tersebut.
Masih banyak contoh lainnya yang bisa disebutkan. Di antaranya yang agak ringan dan sempat menghiasi kontroversi pelajaran sejarah adalah soal pembabakan sejarah, soal perbedaan orientasi dalam pendidikan sejarah dan padatnya materi pelajaran sejarah di sekolah-sekolah, sampai soal keaslian wajah Gajah Mada yang bertahun-tahun sempat akrab di benak kita sejak SD.
Permintaan Mendiknas
Kontroversi kurikulum sejarah saat ini yang terungkap setelah adanya pemeriksaan Kejaksaan Agung terhadap Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas, dan dilanjutkan dengan pelarangan terhadap sejumlah buku-buku pelajaran sejarah menarik untuk kita cermati.
Peristiwa tersebut bermula dari permintaan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo kepada Kejaksaan Agung untuk memeriksa buku-buku pelajaran sejarah tingkat SMP sampai SMA sederajat yang tidak mencantumkan kata PKI pada penyebutan G 30 S. Buku-buku itu dinilai tidak sesuai dengan kurikulum. Kejaksaan Agung sendiri menyebutkan bahwa pemeriksaan ini sebagai bagian dari prosedur untuk memastikan apakah buku-buku tersebut memiliki potensi mengganggu ketertiban umum atau tidak (Kompas, 16 September 2006).
Pertanyaannya sekarang, salahkah para penyusun buku tersebut menghilangkan kata PKI sehingga buku-buku mere- ka harus ditarik dari peredaran? Apakah buku-buku tersebut selama terbitnya telah menim- bulkan gangguan ketertiban umum?
Jika acuannya adalah Kurikulum 2006 yang sah dikeluarkan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22, 23, dan 24 Tahun 2006 yang telah mencantumkan kata PKI pada penyebutan G30 S, maka penyusunan buku tersebut memang patut dipertanyakan, terlepas dari kenyataan bahwa gerakan tersebut secara riil ha- nya menyebutkan gerakannya sebagai G 30 S (Asvi Warman Adam, Kompas, 13 Oktober 2006).
Persoalannya, tidak sedikit buku pelajaran sejarah yang terbit saat itu disusun berdasarkan Kurikulum 2004 yang memang sudah menghilangkan kata PKI. Bahkan, salah satu indikator dari kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah membandingkan beberapa pendapat tentang peristiwa Gerakan 30 September.
Salah satu buku pelajaran sejarah yang terbit di Jakarta untuk siswa SLTA kelas 3 dan disusun dengan cara mengikuti versi Kurikulum 2004 telah mengutip beberapa pendapat yang berbeda versinya satu dengan yang lain dalam mengungkap peristiwa G 30 S tersebut. Secara keilmuan buku ini cukup obyektif, artinya ditulis dengan menyertakan lebih dari satu pendapat.
Akan tetapi, persoalannya menjadi semakin rumit ketika Mendiknas menyatakan bahwa Kurikulum 2004 merupakan kurikulum eksperimen buatan Pusat Kurikulum Depdiknas yang belum disahkan (Kompas, 2 Oktober 2006). Artinya, buku-buku sejarah tersebut dinilai tidak sesuai dengan kurikulum "resmi" yang berlaku saat itu dan saat ini, yaitu Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2006.
Mungkin kita patut mempertanyakan alasan para penyusun buku pelajaran sejarah tersebut, mengapa mereka sampai mengadopsi Kurikulum 2004, yang sebenarnya masih merupakan eksperimen dan belum disahkan.
Akan tetapi, sebelum pertanyaan tersebut bergulir, patut pula kita ajukan pertanyaan mendasar: mengapa Kurikulum 2004 yang masih merupakan eksperimen tersebut telah diterbitkan oleh pusat kurikulum, apalagi disertai dengan kata pengantar oleh Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas? Bagaimana mempertanggungjawabkan kurikulum eksperimen yang dinyatakan belum sah dan terdapat kekeliruan tetapi sudah dilaksanakan di sejumlah sekolah?
Dalam kaitan ini, bukankah Mendiknas wajib mempertanggungjawabkannya kepada publik atas kesalahan eksperimen yang dilakukan pusat kurikulum yang secara struktural berada di bawah tanggung jawabnya? Perlu diingat, eksperimen terhadap kurikulum berarti melakukan eksperimen terhadap jutaan anak-anak Indonesia!
Terlalu berlebihan
Saat ini sejumlah buku sejarah di tingkat SMP-SMA sederajat yang ditulis berdasarkan Kurikulum 2004 telah dilarang oleh Kejaksaan Agung dan wajib ditarik dari peredaran. Sebagai pihak yang berwenang, tentu kita dapat memaklumi tindakan Kejaksaan Agung meneliti dan menyelidiki buku-buku yang "dianggap" dapat mengganggu ketertiban umum.
Hanya saja, kekhawatiran akan terjadinya gangguan ketertiban umum dalam konteks pembelajaran sejarah tentu dapat dikatakan berlebihan. Sebab, kenyataannya materi sejarah tentang peristiwa tahun 1965 yang diajarkan oleh guru-guru sejarah sebenarnya tetap mengacu pada Kurikulum 1994.
Penarikan buku di toko-toko buku tentu tidak berdampak secara psikologis. Akan tetapi, penarikan buku secara tiba-tiba pada anak didik tentu akan berdampak psikologis. Anak akan bertanya, apa yang sedang terjadi pada negara ini sehingga buku sejarah yang sedang mereka pelajari saat ini harus "diambil" dari tangannya. Lalu, bagaimana dengan biaya penggantian buku yang harus mereka beli ulang? Akan- kah ditanggung oleh pemerintah?
Kebijakan Kurikulum 2004 yang berlanjut pada penerbitan buku sejarah berdasarkan "kurikulum eksperimen" tersebut, dan pelarangannya oleh Kejaksaan Agung akan menjadi kontroversi baru dalam dunia pendidikan sejarah di Indonesia.
Tampaknya kurikulum eksperimen inilah yang dinilai oleh sejarawan Asvi Warman Adam sebagai kebijakan pendidikan yang dapat membingungkan masyarakat, murid, dan tentu guru sejarah.
Selain membingungkan, bisa jadi makin menjauhi usaha mencerdaskan kehidupan bangsa (Adapted from KOMPAS, March 26, 2007)

10 Presiden Amerika Terbaik Sepanjang Sejarah

Amerika selalu menjadi pusat perhatian dunia. Perubahan apapun yang terjadi di negeri Paman Sam itu, dunia harus tahu. Karena sebagai negara super power, segala hal yang terjadi di negara super itu, bakal membawa dampak--entah positif atau negatif-- terhadap kehidupan di negara lain.

Berikut ini adalah daftar 10 presiden amerika terbaik sepanjang sejarah :

1. ABRAHAM LINCOLN

"I am a firm believer in the people. If given the truth, they can be depended upon to meet any national crisis. The great point is to bring them the real facts."- Lincoln

Abraham Lincoln (12 Februari 1809 - 15 April 1865), juga dipanggil Abe Lincoln, dan panggilan lain seperti Abe Jujur dan Pembebas Agung kerana usahanya membebaskan perbudakan. Lincoln adalah seorang ahli politik dan juga Presiden Amerika Serikat ke-16 (1861 - 1865), serta presiden pertama Parti Republikan. Beliau merupakan Presiden Amerika Serikat pertama yang dibunuh karena menentang perbudakan dan memainkan peranan penting dalam pengurusan pihak Union (Kesatuan) semasa Perang Saudara Amerika seperti pemilihan jeneral termasuk Ulysses S. Grant.

2. FRANKLIN DELANO ROOSEVELT
"The only thing we have to fear is fear itself." - FDR

Franklin Delano Roosevelt (30 Januari 1882 - 12 April 1945) adalah Presiden Amerika Serikat ke-32 dan merupakan satu-satunya Presiden Amerika yang terpilih empat kali dalam masa jabatan dari tahun 1933 hingga 1945.

Ia salah satu tokoh abad ke-20 dan menempati urutan ketiga dalam sejarah kepresidenan Amerika Serikat. Lahir dalam keadaan berkecukupan, ia juga melewati masa-masa sakit yang membuatnya cacat.
Ia menempatkan dirinya di barisan depan pendukung reformasi. Keluarga dan teman dekatnya memanggilnya Frank. Untuk warga Amerika, dia akrab dikenal sebagai FDR.Salah satu pencapaian Roosevelt yang terkenal dikarenakan kepemimpinannya membantu Amerika Serikat memulihkan diri dari masa "Depresi Hebat".

Dalam perencanaan terhadap Perang Dunia II, dia mempersiapkan AS untuk menjadi "Gudang Senjata Demokrasi" melawan kekuatan Jerman Nazi dan Kekaisaran Jepang, namun aspek-aspek kepemimpinannya, terutama sikapnya terhadap Joseph Stalin yang dipandang naif, telah dikritik oleh beberapa sejarawan.Akhirnya visinya tentang organisasi internasional yang efektif untuk menjaga perdamaian tercapai dengan dibentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa.

3. GEORGE WASHINGTON

"The nation which indulges towards another a habitual hatred, or an habitual fondness, is in some degree a slave. It is a slave to its animosity or to its affection, either of which is sufficient to lead it astray from its duty and its interest." - Washington

George Washington ialah Presiden Amerika Serikat pertama dan menjabat pada tahun 1789 sampai 1797.
Pada tahun 1776 Revolusi Kemerdekaan Amerika pecah dan Kongres Kontinental mengeluarkan Deklarasi Kemerdekaan dan memisahkan diri dari Kerajaan Inggris. Kepemimpinan George Washington berkontribusi banyak dalam keberhasilan daerah-daerah jajahan di Amerika memperjuangkan kemerdekaannya. Pada tahun 1783 Inggris mengakui kemerdekaan Amerika Syarikat, George Washington keluar dari tentara. Empat tahun kemudian pada 1787 ia menjadi Ketua Konvensi Konstitusional.

Pada tahun 1789 setelah Konstitusi disahkan, ia dipilih dengan suara bulat menjadi Presiden Amerika yang pertama. Ia menjalankan dua masa jabatan dari tahun 1789 hingga tahun 1797, didampingi oleh John Adams sebagai wakil presiden. Dalam pidato perpisahannya pada tahun 1797, ia mengatakan kepada rakyat Amerika Serikat agar meninggalkan rasa kedaerahan yang berlebih-lebihan.

Pada tahun 1799, George Washington meninggal dunia dalam usia 67 tahun di Mount Vernon, setelah tiga tahun meletakkan jabatannya sebagai presiden. Ia tidak memiliki keturunan, hanya seorang anak angkat.

4. THOMAS JEFFERSON

"I tremble for my country when I reflect that God is just; that his justice cannot sleep forever. . . the Almighty has no attribute that can take side with us in such a contest." - Jefferson

Thomas Jefferson adalah Presiden Amerika Serikat yang ketiga dengan masa jabatan dari tahun 1801 hingga 1809. Ia juga seorang Pencetus Deklarasi Kemerdekaan (1776) dan bapak pendiri Amerika Serikat.
Thomas Jefferson adalah seorang filsuf politik yang gencar mendukung faham kebebasan liberal (liberalism), faham republik, dan pemisahan antara negara dan agama. Thomas Jefferson jugalah yang membuat desentralisasi pemerintahan di Amerika Serikat.
Pada usia 33 tahun sebagai anggota Kongres Kontinental, yaitu kongres ke-13 daerah jajahan di Amerika yang menyatakan kemerdekaan dari Inggris, Thomas Jefferson menyusun Deklarasi Kemerdekaan. Dalam pasal pendek, ia menyingkap filsafat revolusi saat itu, dan kemudian dikenal sebagai Piagam Hak-Hak Azazi Manusia.
Thomas Jefferson dua kali berturut-turut menjadi Presiden, dari 1801 sampai 1809. Sewaktu menjabat sebagai presiden Jefferson didampingi oleh Aaron Burr dan George Clinton sebagai wakil presiden.
Jefferson adalah pendukung yang bersuara kuat untuk mempeluas wilayah ke barat. Jasanya yang lain yang cukup dikenal ialah pembelian Louisiana dari Perancis pada 1803. Kala itu jajahan Perancis di Amerika Utara 'dibeli'. Pembelian itu menjadikan wilayah Amerika Serikat yang masih muda menjadi lebih dari dua kali luasnya. Sejarah membuktikan bahwa harga yang dibayar, yaitu 15 juta dollar, ternyata sangat murah. Ekspansi ini dilanjutkan dengan ekspedisi Louis dan Clark.

Pada tahun 1809 Thomas Jefferson meninggalkan Gedung Putih. Jefferson pensiun dan tinggal di Monticello untuk memikirkan proyek besarnya sebagai rancangan awal Universitas Virginia. Thomas Jefferson meninggal dunia pada tanggal 4 Juli 1826.


5. THEODORE ROOSEVELT

"No Man is justified in doing evil on the grounds of expedience." - Roosevelt"

Theodore Roosevelt, Jr. adalah Presiden Amerika Serikat yang Ke-26. Menjabat dua kali masa jabatan di tahun 1901 hingga 1909. Sebelum menjadi presiden Roosevelt adalah wakil presiden Amerika Serikat di bawah Presiden William McKinley.
Ia tegas dalam pendiriannya bahwa negara-negara asing tidak boleh membangun pangkalan di daerah Karibia, dan Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang boleh mencampuri urusan negara-negara Amerika lain.

Pada 1905 Presiden Theodore Roosevelt menenangkan hadiah Nobel Perdamaian karena mendamaikan Rusia dan Jepang yang sedang berperang. Ia juga merupakan presiden Amerika Serikat yang pertama yang menggunakan Mahkamah Arbitrasi Intemasional di Den Haag, Belanda.

Beberapa di antara hasil usaha Presiden Theodore Roosevelt yang paling mengesankan adalah Bidang pemeliharaan alam dengan menambah luas tanah-hutan negara di bagian barat Amerika dalam jumlah yang besar.
Bidang kepentingan umum dengan mengadakan proyek-proyek irigasi besar.
Theodore Roosevelt dikenal juga dengan panggilan T.R., dan di kalangan masyarakat dikenal dengan Teddy (walaupun ia sendiri tidak menyukai nama panggilan ini). Nama boneka mainan beruang Teddy, dinamakan menurut presiden ini karena suatu kali pada saat berburu ia menolak membunuh seekor anak beruang.

6.ANDREW JACKSON

"It is to be regretted that the rich and powerful too often bend the acts of government to their selfish purposes." - Jackson


Andrew Jackson (15 Mac 1767-8 Jun 1845) ialah Presiden Amerika Syarikat yang ke-7. Beliau memegang dua penggal berturut-turut pada tahun 1829 - 1837. Amerika memasuki fasa penting selama 8 tahun pemerintahan Presiden Andrew Jackson, berkatnya Amerika Syarikat menjadi lebih kuat.
Pada tahun 1829 Andrew Jackson dilantik menjadi Presiden Amerika Syarikat yang ke-7. Sewaktu menjawat, beliau didampingi oleh John Caldwell Calhoun (1829-1832) dan Martin Van Buren (1832-1837) sebagai wakil presiden.Kemenangannya melambangkan kemenangan rakyat pada umumnya kerana Andrew Jackson melambangkan rasa dan harapan orang biasa. Rakyat umum menaruh kepercayaan pada dirinya dan tetap berdiri di belakangnya.Andrew Jackson pengikut parti Demokrat, yang hingga kini, tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang ditetapkannya.

Pada 4 Mac 1837, Andrew Jackson meninggalkan Rumah Putih, kala itu kekayaannya telah merudum dan kesihatannya semakin buruk.Pada 8 Jun 1845, Andrew Jackson meninggal dunia ketika usianya 78 tahun di Hermitage, Nashville, Tennessee.
Erti baru yang diberikan Andrew Jackson pada istilah "Demokrasi" tetap hidup sebagai sumbangannya yang terbesar pada masa depan.

7. WOODROW WILSON

"The history of liberty is a history of the limitations of governmental power, not the increase of it." - Wilson

Pada awal tahun 1918, sementara perang masih berkecamuk di Eropa, Woodrow Wilson membuat proposal "Enam Belas Butir"-nya yang terkenal untuk mencoba menegakkan perdamaian. Butir-butir ini menyerukan kepada bangsa-bangsa untuk menyangkal perjanjian-perjanjian rahasia dan memungkinkan orang-orang yang tertindas untuk menentukan nasib mereka sendiri secara demokratis. Enam Belas Butir yang dibuat Wilson ini juga menyerukan bahwa yang terpenting adalah mendirikan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Setelah perang berakhir pada bulan November 1918, Wilson sendiri pergi ke Paris sebagai pemimpin delegasi perdamaian Amerika. Di Inggris dan benua Eropa, ia mendapat sambutan yang luar biasa hangat. Wilson dipandang sebagai pemimpin yang berprinsip yang menempatkan kepentingan orang banyak di atas kelompok-kelompok yang mementingkan diri sendiri. Perjanjian perdamaian berlangsung brutal. Setelah lelah berdebat, Wilson menarik kembali sebagian besar dari keempat belas butirnya. Tetapi ia yakin pada konferensi perdamaian untuk menerima Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan harapan bahwa berdirinya badan ini akan mencegah timbulnya sebuah perang besar lagi.

8. HARRY S TRUMAN

"When even one American - who has done nothing wrong -- is forced by fear to shut his mind and close his mouth, then all of Americans are in peril." - Truman

Harry S. Truman (8 Mei 1884 - 26 Desember 1972) adalah Presiden Amerika Serikat ke-33 (1945-1953). Sebelumnya, Truman menjabat wakil presiden Amerika Serikat. Ia menggantikan Franklin D. Roosevelt setelah sang presiden wafat.
Truman membuat keputusan untuk menurunkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.Dalam Perang Dunia II, ia menjadi Ketua Panitia Penyelidik Perang di Senat, yang menyelidiki pemborosan uang negara dan korupsi. Diperkirakan dalam masa jabatannya ia telah menyelamatkan uang negara sebanyak 15 milyar dollar.

9.JAMES K POLK

"No president who performs his duties faithfully and conscientiously can have any leisure." - Polk

James Knox Polk (2 November 1795-15 Juni 1849) tampil ke-11 sebagai Presiden Amerika Serikat (4 Maret 1845-4 Maret 1849). Polk lahir di Mecklenburg Heck County, North Carolina, namun menjalani hidup di negara Tennessee. Ketika Partai Demokrat merekrutnya, Polk menjabat Ketua DPR Amerika Serikat (1835-1839) dan Gubernur Tennessee (1839-1841) hingga menjabat sebagai presiden.
Sebagai seorang presien, James Polk adalah salah seorang Presiden Amerika Serikat yang paling efektif pada awal abad ke-19. Dalam bidang politik dalam negeri, ia mencapai semua tujuan terpenting dari Partai Demokrat.

Dalam masa kepresidenannya, James Polk memperluas wilayah Amerika Serika sampai ke lautan Pasifik.Pada tahun 1846, Inggris menyerahkan Oregon ke Amerika Serikat, wilayah ini berbatasan dengan Lautan Pasifik, sebagai gantinya Amerika menyerahkan daerah Vancouver kepada Inggris.
Pada tahun yang sama Meksiko menyerahkan daerah New Mexico dan California kepada Amerika Serikat sesudah peperangan antara Amerika dan Meksiko berakhir. Sebagai gantinya Amerika membayar 15 juta dollar kepada Meksiko dan mengambil alih tuntutan kerugian orang-orang Amerika kepada Meksiko.Pada akhir masa jabatannya, James Polk meninggalkan Gedung Putih dan pindah ke Nashville, Tennessee, di mana ia jatuh sakit. Tiga bulan setelahnya, pada 15 Juni 1849 ia meninggal dunia. James Polk dan istrinya tidak memiliki keturunan.

10. DWIGHT EISENHOWER Dwight Eisenhower

"Every gun that is made, every warship that is launched, every rocket fired signifies in the final sense a theft from those who hunger and are not fed, those who are cold and not clothed" - Eisenhower

Eisenhower's semasa menjabat presiden memberikan kemakmuran besar dan keuntungan ekonomi. Eisenhower juga memberikan kunci kepemimpinan yang digunakan selama Perang Dingin.