Tampilkan postingan dengan label muhammad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muhammad. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Maret 2010

Bagaimanakah Rasulullah Bersikap?

Tawadhu dan Rendah Hati; Rasulullah tuRut mengeRjakan dan membantu pekeRjaan Rumah tangga. SeORang hamba Allah yang teRpilih tidaklah segan mengeRjakan hal itu semua.
Aisyah Radhiyallahu 'anha peRnah ditanya: "Apakah yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam Rumah?" Ia Radhiyallahu 'anha menjawab: "Beliau shallallahu 'alaihi wasallam adalah seORang manusia biasa. Beliau menambal pakaian sendiRi, memeRah susu dan melayani diRi beliau sendiRi." (HR. Ahmad dan TiRmidzi)
Makan dengan kesedeRhanaan; DaRi Rumah beliau shallallahu 'alaihi wasallam yang penuh beRkah itulah memancaR cahaya Islam, sedangkan beliau sendiRi tidak mendapatkan makanan yang dapat mengganjal peRut beliau shallallahu 'alaihi wasallam.
An-Nu'man bin BasyiR menutuRkan kepada kita keadaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
”Aku telah menyaksikan sendiRi keadaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sampai-sampai beliau tidak mendapatkan kuRma yang jelek sekalipun untuk mengganjal peRut." (HR. Muslim)

Aisyah Radhiyallahu 'anha menutuRkan:
"Kami, keluaRga Muhammad, tidak peRnah menyalakan tungku masak selama sebulan penuh, makanan kami hanyalah kuRma dan aiR." (HR. Al-BukhaRi)
Menegakkan Shalat; Tidak ada satu peRkaRa pun yang melalaikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam daRi beRibadah dan beRbuat ketaatan. Apabila sang muadzin telah mengumandangkan azan; "MaRilah tegakkan shalat! MaRilah menggapai kemenangan!" beliau segeRa menyambut seRuan teRsebut dan meninggalkan segala aktifitas duniawi. Tidak satupun Riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengeRjakan shalat faRdhu di Rumah, kecuali ketika sedang sakit.
DiRiwayatkan daRi Al-Aswad bin Yazid ia beRkata: "Aku peRnah beRtanya kepada 'Aisyah Radhiyallahu 'anha: 'Apakah yang biasa dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di Rumah?' 'Aisyah Radhiyallahu 'anha menjawab: "Beliau biasa membantu keluaRga, apabila mendengaR seRuan azan, beliau segeRa keluaR (untuk menunaikan shalat)." (HR. Muslim)

“Betapa ingin aku beRtemu dengan saudaRa-saudaRaku!” PaRa sahabat Shalallaahu alaihi wasalam beRkata, “Wahai Rasulullah, bukankah kami ini saudaRa-saudaRamu?” Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menjawab, “Kamu sekalian adalah sahabat-sahabatku, saudaRa-saudaRaku adalah geneRasi yang belum lagi muncul.” “Wahai Rasulullah, bagaimanakah engkau dapat mengenali suatu geneRasi daRi umatmu yang belum lagi muncul?” tanya sahabat. Beliau Shalallaahu alaihi wasalam menjawab, “Bagaimanakah menuRutmu, bila seseORang memiliki seekOR kuda yang putih kepala dan kakinya di antaRa kuda-kuda yang hitam legam, bukankah dia dapat mengenali kudanya?” “Tentu saja wahai Rasulullah!” jawab meReka. “Sungguh, meReka akan datang dengan waRna putih beRcahaya pada wajah dan tubuh meReka disebabkan aiR wudhu’. Dan akulah yang akan mendahului meReka tiba di telaga (Al-KautsaR)!” jawab beliau.” (HR. Muslim)

Links:
[Suami SepeRti Rasulullah saw]
http://wildan.eltika.net/suami-seperti-rasulullah-saw.html/
•Rasulullah Muhammad saw adalah seORang suami teladan bagi seluRuh umat manusia. Di luaR Rumah beliau beRpeRan sebagai seORang panglima peRang dan figuR dakwah, dan di Rumah beliau pun mampu beRpeRan sebagai suami teRbaik.
•untuk menjadi seORang suami sepeRti Rasulullah Muhammad saw tidak akan dapat dilakukan dengan sepenuhnya (sama peRsis sepeRti beliau apa adanya). KaRena pada dasaRnya, beliau adalah seORang Rasul yang teRjaga daRi kesalahan dan maksiat sekecil apapun, sementaRa kita hampiR selalu saja beRsentuhan dengan yang namanya maksiat atau dOsa, baik sengaja maupun tidak sengaja. Hanya saja, sebagai umatnya kita tentu saja dapat memaksimalkan usaha untuk dapat mengikuti jejak beliau dalam beRumah tangga. Untuk menjadi seORang suami sepeRti Rasulullah saw, kita dapat beRusaha untuk senantiasa mengaplikasikan apa-apa yang beliau aplikasikan di dalam Rumah tangga.
•Di dalam Rumah tangga, Rasulullah Muhammad saw tidak peRnah beRsifat meRaja yang selalu ingin atau meminta untuk dilayani. Rasulullah Muhammad saw tidak peRnah mempeRbudak istRi-istRi beliau. JustRu beliau sangat sayang dan menghORmati istRi-istRi beliau, mendidik istRi-istRi beliau dan beRsikap seadil-adilnya.
•Rasullah Muhammad saw senantiasa mengeRjakan pekeRjaan-pekeRjaan Rumah tangga dengan ikhlas. Beliau membantu mengeRjakan dan menyelesaikan pekeRjaan istRi-istRinya. Hebatnya lagi, beliau yang meRupakan seORang Rasul Allah swt, tOkOh dakwah teRkemuka, dan sebagai panglima peRang tidak peRnah meRasa malu atau malas untuk mengeRjakan pekeRjaan-peRkejaan istRi beliau (pekeRjaan wanita). Beliau suka menjahit pakaian beliau sendiRi yang RObek. Dan Rasulullah Muhammad saw ketika beRada di Rumah, beliau juga bekeRja membantu memeRah susu. Semaksimal mungkin beliau pun beRsikap mandiRi dalam mengeRjakan pekeRjaan Rumah tangga, melayani diRi sendiRi dan tidak menekan sang istRi untuk mengeRjakan pekeRjaan Rumah tangga sendiRi.
[Ingin Sehat?? Ikuti POla Makan Rasulullah]
http://kesehatan.kompasiana.com/2009/12/09/ingin-sehat-ikuti-pola-makan-rasulullah/
•Tahukah anda ? Bahwa seumuR hidupnya, Rasulullah hanya peRnah mengalami sakit dua kali sakit. PeRtama, ketika diRacun Oleh seORang wanita Yahudi yang menghidangkan makanan kepada Rasulullah saw di Madinah. Kedua, ketika menjelang wafatnya.
•Asupan awal ke dalam tubuh Rasulullah adalah udaRa segaR pada waktu subuh. Beliau bangun sebelum subuh dan melaksanakan qiyamul lail. PaRa pakaR kesehatan menyatakan, udaRa sepeRtiga malam teRakhiR sangat kaya dengan Oksigen dan belum teRkOtORi Oleh zat-zat lain, sehingga sangat beRmanfaat untuk Optimalisasi metabOlisme tubuh. Hal itu sangat besaR pengaRuhnya teRhadap vitalitas seseORang dalam aktivitasnya selama sehaRian penuh.
Di pagi haRi, Rasulullah saw menggunakan siwak untuk menjaga kesehatan mulut dan gigi. ORgan tubuh teRsebut meRupakan ORgan yang sangat beRpeRan dalam kOnsumsi makanan. Apabila mulut dan gigi sakit, maka biasanya pROses kOnsumsi makanan menjadi teRganggu.
•Di pagi haRi pula Rasulullah saw membuka menu saRapannya dengan segelas aiR dingin yang dicampuR dengan sesendOk madu asli.
Masuk waktu dhuha (pagi menjelang siang), Rasulullah saw senantiasa mengOnsumsi tujuh butih kuRma ajwa’ (matang).
•Menjelang sORe haRi, menu Rasulullah biasanya adalah cuka dan minyak zaitun. Selain itu, Rasulullah juga mengOnsumi makanan pOkOk sepeRti ROti. Manfaatnya banyak sekali, diantaRanya mencegah lemah tulang, kepikunan di haRi tua, melancaRkan sembelit, menghancuRkan kOlesteROl dan melancaRkan penceRnaan. ROti yang dicampuR cuka dan minyak zaitun juga beRfungsi untuk mencegah kankeR dan menjaga suhu tubuh di musim dingin.
•Di malam haRi, menu utama makan malam Rasulullah adalah sayuR-sayuRan. BebeRapa Riwayat mengatakan, Rasulullah saw selalu mengOnsumsi sana al makki dan sanut. MenuRut PROf. DR. MusthOfa, di MesiR deudanya miRip dengan sabbath dan ba’dunis. Mungkin istilahnya cukup asing bagi ORang di luaR ARab, tapi dia menjelaskan, intinya adalah sayuR-sayuRan. SecaRa umum, sayuRan memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama yaitu menguatkan daya tahan tubuh dan melindungi daRi seRangan penyakit.
•Rasulullah saw tidak langsung tiduR setelah makan malam. Beliau beRaktivitas teRlebih dahulu supaya makanan yang dikOnsumsi masuk lambung dengan cepat dan baik sehingga mudah diceRna. CaRanya juga bisa dengan shalat.
•Disamping menu wajib diatas, ada bebeRapa makanan yang disukai Rasulullah tetapi tidak Rutin mengOnsumsinya. DiantaRanya, tsaRid yaitu campuRan antaRa ROti dan daging dengan kuah aiR masak. Beliau juga senang makan buah yaqthin atau labu aiR, yang teRbukti bisa mencegah penyakit gula. Kemudian, beliau juga senang makan buah angguR dan hilbah (susu).
•Rasulullah saw seRing menyempatkan diRi untuk beROlahRaga. TeRkadang beliau beROlahRaga sambil beRmain dengan anak-ana dan cucu-cucunya. PeRnah pula Rasulullah lOmba laRi dengan istRi teRcintanya, Aisyah R.a.
•Rasulullah saw tidak menganjuRkan umatnya untuk beRgadang. Hal itu yang melataRi, beliau tidak menyukai beRbincang-bincang dan makan sesudah waktu isya. Biasanya beliau tiduR lebih awal supaya bisa bangun lebih pagi. IstiRahat yang cukup dibutuhkan Oleh tubuh kaRena tiduR teRmasuk hak tubuh.
[SHALATLAH, DIMANA DAN BAGAIMANAPUN KEADAANMU!]
http://alkatuni.110mb.com/fiqh_hadits/sholatlah.php
•Shalat dalam agama Islam memiliki kedudukan yang sangat tinggi, hal ini bisa disimpulkan bila kita menceRmati nash-nash Al QuR’an maupun As Sunnah. Di antaRanya sebagai beRikut:
1. MendiRikan shalat adalah tanda sebenaR-benaRnya ORang mu’min.
2. Shalat meRupakan Rukun Islam yang ke dua.
3. Shalat meRupakan tiang agama.
4. Shalat adalah amalan yang peRtama kali dihisab pada haRi kiamat dan sebagai tOlOk ukuR daRi seluRuh amal ibadah yang lainnya.
5. TuRunnya peRintah shalat tanpa melalui peRantaRa Malaikat JibRil, bahkan Rasulullah sendiRi meneRima langsung daRi Allah subhanahu wata'ala di atas langit yang ke tujuh.

Minggu, 28 Februari 2010

Kisah Nabi Adam

Perintah Allah kepada malaikat dan iblis untuk sujud kepada Adam merupakan awal permusuhan iblis kepada manusia. Ia menolak perintah itu sehingga dihukum Allah. Namun iblis berjanji akan menyesatkan Adam dan keturunannya. Salah satu bentuk tipu dayanya adalah berhasil menggoda Adam untuk melanggar larangan Allah sehingga Adam dikeluarkan dari surga.

Allah subhanahu wa ta'ala ingin menampakkan penghormatan malaikat kepada kepada Nabi Adam secara lahir dan batin. Untuk itu, Allahmj subhanahu wa ta'ala perintahkan para malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam alaihisholatu was sallam:
“Sujudlah kepada Adam!” (QS. Al Baqarah: 34)

Hal ini merupakan penghormatan dan penghargaan kepada Nabi Adam alaihishalatu was sallam dan dalam rangka ibadah, cinta dan taat kepada Allah subhanahu wata’ala, serta tuduk kepada perintah-Nya. Segeralah para malaikat itu bersujud.


Namun iblis yang berada di tengah-tengah mereka yang tentunya ikut serta mendapatkan perintah itu -iblis itu sendiri bukan dari golongan malaikat melainkan dari golongan jin yang diciptakan dari api-, justru menyimpan kekafiran kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan kedengkian kepada Nabi Adam alaihishalatu was sallam. Kufur dan rasa dengki itu membuat iblis enggan sujud kepada Nabi Adam alaihishalatu was sallam. Tak cuma menunjukkan kesombongan, iblis bahkan menyangkal perintah Allah subhanahu wa ta'ala dan mencela kebijaksanaan-Nya. Katanya:
“Saya lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.” (QS. Al A’raf: 12)

Maka Allah katakan:
“Wahai iblis, apa yang menghalangimu untuk sujud kepada apa yang telah Kuciptakan dengan dua tangan-Ku? Apakah engkau sombong ataukah engkau (merasa) termasuk orang-orang yang lebih tinggi?” (QS. Shad:75)

Kekufuran, kesombongan, dan pembangkangan ini merupakan sebab terusirnya dan terlaknatinya Iblis. Allah subhanahu wa ta'ala katakan kepadanya:

“Turunlah kamu dari surga karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al A’raf: 13)

Iblis enggan tunduk dan bertobat kepada Tuhannya, bahkan menentang, meremehkan, dan bertekad bulat untuk memusuhi Adam alaihishalatu was sallam beserta anak cucunya. Ia pun menyiapkan dirinya saat mengetahui bahwa dirinya telah ditetapkan menjadi makhluk yang sengsara selama-lamanya. Ia, dengan ucapan dan perbuatan bersama bala tentaranya, berikrar untuk mengajak anak cucu Adam alaihishalatu was sallam agar menjadi golongan yang telah diputuskan untuk tinggal di rumah kehancuran (neraka). Iblis nyatakan hal itu dengan mengatakan kepada Allah subhanahu wa ta'ala:

“Wahai Rabbku, berilah aku waktu sampai hari kebangkitan.” (QS. Shad: 79)

Iblis benar-benar meluangkan waktu untuk menebar permusuhan di kalangan Adam alaihisholatu was sallam dan anak cucunya. Maka tatkala hikmah Allah subhanahu wa ta'ala menuntut agar manusia mempunyai tabiat dan akhlak yang berbeda-beda, maka Allah subhanahu wa ta'ala juga menentukan sesuatu yang menyebabkannya. Yaitu berupa cobaan dan ujian, dan yang terbesarnya adalah diberinya iblis kesempatan untuk mengajak anak Adam alaihishalatu was sallam kepada semua jenis kejahatan. Maka Allah subhanahu wa ta'ala pun menjawab:
“Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai pada hari yang telah di tentukan waktunya.” (QS. Shad: 80-81)

Iblis menyambut jawaban itu dengan menegaskan permusuhan kepada Adam alaihishalatu was sallam beserta anak cucunya dan menegaskan maksiatnya kepada Allah subhanahu wa ta'ala, katanya:
“Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al A’raf:16-17)

Iblis mengucapkan itu berdasarkan sangkaannya, karena ia tahu benar tabiat anak Adam alaihishalatu was sallam. “Dan iblis telah membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya kecuali sebagian orang-orang yang beriman.” (QS. Saba’: 20)

Allah berikan iblis kesempatan untuk melakukan perkara yang telah menjadi niatannya pada Adam alaihishalatu was sallam dan anak cucunya. Allah katakan:

“Pergilah, siapa yang mengikutimu dari mereka, maka jahannamlah balasan kalian semua sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak.” (QS. Al Isra: 63-64)

Yakni jika kamu mampu, jadikanlah mereka orang-orang yang menyeleweng dalam mendidik anak-anak mereka dengan didikan yang rusak dan dalam membelanjakan harta mereka kepada hal-hal yang mudharat, juga dalam mencari harta dari yang tidak baik. Begitu pula ikut sertalah dengan mereka jika mereka makan, minum, dan berjima’, yakni ketika mereka tidak menyebut nama Allah subhanahu wa ta'ala. Juga perintahkanlah mereka untuk tidak beriman dengan hari kebangkitan dan pembalasan dan agar mereka tidak melakukan kebajikan. Takut-takuti mereka dengan pembantu-pembantumu, berikan kekhawatiran pada mereka ketika berinfak yang baik dengan kefakiran.

Kesempatan yang Allah berikan ini sesungguhnya demi sebuah hikmah dan rahasia yang besar. Sungguh engkau wahai musuh yang nyata tidak akan menyisakan sedikitpun dari kemampuanmu dalam menyesatkan mereka. Manusia yang jahat akan nampak kejahatan dan kejelekannya, dan Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan mempedulikannya.

Adapun keturunan Adam alaihishalatu was sallam yang terpilih, baik dari kalangan para nabi dan pengikutnya, baik orang-orang yang sangat jujur dalam beriman, dan para wali-Nya, maka Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan menguasakan musuh ini (iblis) atas mereka. Bahkan Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan di sekitar mereka pagar pelindung yang begitu kuat, sebagai perlindungan dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Allah subhanahu wa ta'ala membekalinya dengan senjata yang tidak mungkin musuh bisa menandinginya, yaitu kesempurnaan iman dan tawakal mereka kepada Rabb-nya.

“Sungguh mereka tidak memiliki kekuatan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. An Nahl: 99).

Juga Allah subhanahu wa ta'ala bantu mereka dalam menghadapi musuh yang nyata itu di antaranya dengan menurunkan kitab-kitab yang mencakup ilmu yang bermanfaat, nasehat yang mengena yang memberi semangat untuk melakukan kebajikan dan memperingatkan dari kejelekan. Selain itu, Allah subhanahu wa ta'ala juga mengutus para Rasul yang membawa kabar gembira kepada mereka yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan mentaati-Nya dengan pahala.

Juga memperingatkan orang-orang kafir, yang mendustakan dan berpaling dari Allah, dengan berbagai macam hukuman. Allah subhanahu wa ta'ala juga menjamin orang yang mengikuti petunjuk yang terkandung di dalam kitab-Nya yang dibawa oleh rasul-Nya tidak sesat semasa di dunia dan tidak sengsara kelak di akhirat, tidak takut, serta tidak tertimpa perasaan sedih.

Demikian juga Allah subhanahu wa ta'ala bimbing mereka melalui kitab dan para rasul-Nya kepada hal-hal yang bisa melindungi mereka dari musuh yang nyata ini. Allah subhanahu wa ta'ala pun menerangkan kepada hamba-Nya, misi yang dibawa setan dan strateginya dalam menjaring manusia ke dalam perangkapnya. Juga Allah subhanahu wa ta'ala bimbing mereka kepada jalan yang menyelamatkan mereka dari kejahatan setan dan fitnahnya, dan membantu dengan bantuan yang di luar kemampuan mereka. Karena, ketika mereka mengeluarkan segala daya upaya dan minta bantuan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, akan mudah bagi mereka jalan mana saja yang dituju.

Setelah itu Allah subhanahu wa ta'ala sempurnakan nikmat kepada Adam alaihishalatu was sallam dengan menciptakan istrinya Hawa dari dirinya dan jenisnya. Ini dimaksudkan agar tercapai ketenangan dan tujuan-tujuan lain seperti pernikahan, kebersamaan, dan adanya anak keturunan.

Allah subhanahu wa ta'ala juga memperingatkan Adam dan istrinya, untuk berhati-hati dari setan karena sesungguhnya setan adalah musuh bagi mereka berdua. Jangan sampai iblis mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga Allah subhanahu wa ta'ala. Ketika itu, Allah mempersilahkan mereka makan buah-buahan apa saja yang ada di dalam surga dan menikmati segala kenikmatan yang ada padanya, kecuali pohon tertentu. Allah subhanahu wa ta'ala katakan kepada mereka berdua:
“Dan jangan kalian dekati pohon ini sehingga kalian menjadi orang-orang yang dzalim.” (QS. Al A’raf: 19)

“Sungguh kamu tidak akan lapar padanya dan tidak telanjang dan sungguh engkau tidak akan dahaga padanya, dan tidak tertimpa panas matahari.” (QS. Thaha: 119)

Maka keduanya tinggal di surga selama dikehendaki Allah subhanahu wa ta'ala dengan segala kenikmatannya. Akan tetapi musuh mereka berdua terus mengintai dan mencari kesempatan. Maka ketika setan melihat senangnya Adam alaihishalatu was sallam di dalamnya dan keinginannya yang besar untuk tetap tinggal di dalamnya, setan datang dengan cara yang lembut seolah seorang yang jujur sedang menasehati, ia katakan:
‘Wahai adam apakah engkau mau kutunjukkan sebuah pohon yang jika kamu memakannya kamu akan kekal di surga ini dan akan langgeng kerajaan ini serta tidak akan rusak’. Terus menerus ia rayu Adam alaihishalatu was sallam. Ia janjikan, ia bisikkan, ia berikan harapan dan seolah terus memberi nasehat padahal itu adalah penipuan yang besar. Hingga setan pun berhasil menipu mereka berdua dan akhirnya keduanya makan dari pohon terlarang itu. Maka ketika makan, terlepaslah pakaian mereka berdua sehingga terlihat auratnya, akhirnya keduanya cepat-cepat mengambil daun-daun surga untuk menutupi badan mereka yang telanjang sebagai pengganti pakaian mereka. Seketika itu pula nampak hukuman Allah subhanahu wa ta'ala atas maksiat yang mereka lakukan, lalu Allah subhanahu wa ta'ala menyeru mereka berdua:

“Tidakkah Aku telah melarang kalian berdua makan dari pohon ini dan Aku katakan kepada kalian berdua sungguh setan adalah musuh yang nyata buat kalian berdua.” (QS. Al A’raf: 22).

Kemudian Allah tumbuhkkan pada hati mereka taubat yang sungguh-sungguh.
“Adam memperoleh beberapa kalimat dari Robbnya.” (QS. Al Baqarah: 22).

Maka keduanya berkata: “Wahai Rabb kami, sungguh kami telah berbuat dzalim pada diri kami, jikalau Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami, benar-benar kami akan menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 23).

Maka Allah terima taubat mereka dan Allah hapus dosa yang telah menodai mereka. Akan tetapi keluar dari surga jika mereka memakan dari pohon itu, sudah menjadi keputusan yang pasti sehingga keluarlah mereka ke bumi yang kebaikannya dicampuri dengan keburukannya, kesenangan dicampuri dengan kesusahannya.

Allah kabarkan kepada keduanya bahwa Allah subhanahu wa ta'ala pasti akan memberikan cobaan pada keduanya dan anak cucunya, serta orang-orang yang beriman. Yang beramal shalih akan mendapatkan balasan yang baik, sebaliknya yang mendustakan lagi berpaling, akibatnya adalah kesengsaraan yang abadi dan adzab yang kekal. Allah subhanahu wa ta'ala ingatkan anak cucu Adam akan hal itu, kata-Nya:
“Wahai anak Adam jangan sekali-kali kalian dapat ditipu oleh setan seperti telah mengeluarkan ayah ibu kalian dari surga, ia tanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat. Sesungguhnya ia dan pengikutnya melihat kamu dari seuatu tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka.” (QS. Al A’raf: 27)

Allah subhanahu wa ta'ala kemudian mengganti pakaian yang ditanggalkan oleh setan dari Adam dan Hawa dengan pakaian yang menutupi aurat mereka dan menghiasi mereka secara lahir. Juga dengan pakaiaan yang lebih baik dari itu yaitu pakaian ketakwaan, yakni pakaian hati dan rohani dengan iman, keikhlasan, taubat dan hiasan dengan segala akhlak yang indah serta menanggalkan segala akhlak yang hina. Lalu Allah subhanahu wa ta'ala tebarkan dari Adam alaihishalatu was sallam dan istrinya anak turun yang banyak laki-laki maupun perempuan di muka bumi. Allah ganti mereka generasi demi generasi untuk dilihat oleh-Nya apa yang mereka lakukan.

Faedah yang dipetik:

Allah subhanahu wa ta'ala jadikan kisah itu sebagai ibrah untuk kita yaitu bahwa sesungguhnya sombong, dengki, dan ambisi merupakan akhlak yang berbahaya buat seorang hamba. Kesombongan dan kedengkian iblis membawanya kepada apa yang kita lihat, demikian juga keinginan kuat Adam alaihishalatu was sallam dan istrinya mengantarkan mereka memakan buah pohon itu. Kalaulah rahmat Allah subhanahu wa ta'ala tidak segera menyelamatkan, sungguh perbuatan mereka itu akan menyampaikan kepada kebinasaan. Akan tetapi rahmat-Nya segera menyempurnakan yang kurang, memperbaiki yang rusak, menyelamatkan yang binasa dan mengangkat yang telah jatuh.